Belas Kasihan Tuhan dan Kekuatan Niat

Minggu, 11 Februari 2024 – Hari Minggu Biasa VI

48

Markus 1:40-45

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

***

Niat yang kuat untuk sembuh dari penyakit akan mempercepat proses penyembuhan. Penyakit yang diderita manusia memang sering melemahkan semangat, apalagi kalau sakit itu adalah sakit yang menahun. Rasa putus asa sering mendera orang-orang sakit. Orang menjadi kehilangan kepercayaan. Tanpa sadar keputusasaan itu mempersulit proses penyembuhan tubuh. Orang sakit yang punya semangat untuk sembuh akan berjuang sekuat tenaga untuk keluar dari deraan penyakitnya. Kepercayaannya mempermudah proses penyembuhan tubuhnya.

Bacaan Injil hari ini menceritakan seorang kusta yang tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh penyakitnya. Kusta adalah penyakit yang sangat berat karena tidak hanya menyerang fisik manusia, tetapi juga melemahkan mental penderita. Orang yang sakit kusta dianggap najis. Bacaan pertama dari Kitab Imamat mengatakan bahwa orang yang sakit kusta harus berpakaian cabik-cabik dengan rambut terurai untuk membedakan dirinya dari orang sehat (Im. 13:1-2, 45-46). Dia dipandang najis dan harus tinggal terasing, ditolak oleh masyarakat. Situasi ini sangat tidak menyenangkan dan dapat menyebabkan rasa putus asa pada penderita kusta.

Namun, orang kusta dalam bacaan Injil hari ini tidak menyerah dengan keadaannya. Dia memberanikan diri datang kepada Yesus. Dia melakukan suatu tindakan yang tidak biasa dan dilarang: Mendekati orang yang sehat. Tindakan ini berisiko karena dapat menularkan penyakit kustanya kepada orang yang sehat. Akan tetapi, orang kusta ini datang digerakkan oleh iman bahwa orang yang dijumpainya itu punya kuasa dan kasih untuk menyembuhkannya. Kepercayaannya tidak dilemahkan oleh Yesus, malah menggerakkan hati-Nya untuk berbelaskasihan dan menyembuhkan orang itu. “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Orang kusta itu pun sembuh. Kerahiman ilahi yang didukung oleh kepercayaan dan niat yang kuat untuk sembuh membawa berkat kesembuhan yang dinanti oleh si penderita kusta.

Semangat juang dan semangat untuk sembuh dalam diri penderita kusta tersebut menyebabkan mukjizat penyembuhan menjadi mungkin. Semangat hidup adalah tanda adanya kepercayaan yang dalam bahwa dia akan sembuh, serta iman bahwa Yesuslah yang akan menyembuhkannya. Dalam hidup, ada banyak masalah yang kita hadapi, termasuk sakit yang dapat melemahkan semangat hidup kita. Bagi kita yang sakit, orang kusta itu menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya dan punya niat teguh untuk sembuh. Kerahiman ilahi akan bekerja dengan dahsyat jika kita percaya bahwa Tuhan mampu membebaskan kita yang sakit dari penderitaan ini. Datanglah kepada Tuhan dengan iman yang kuat dan keberanian yang besar: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” Pastilah Tuhan tidak akan mengecewakan kita. Dia akan menyembuhkan sakit kita. Yesus akan membuat segala sesuatu dalam hidup orang beriman menjadi baik.