Ragi yang Baik

Selasa, 13 Februari 2024 – Hari Biasa Pekan VI

50

Markus 8:14-21

Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.” “Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.” Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?”

***

Kemajuan teknologi informasi memang merupakan pencapaian yang membanggakan dari peradaban manusia. Banyak kemudahan disediakan berkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meski demikian, perkembangan zaman juga selalu diikuti oleh pengaruh buruk terhadap adab manusia. Salah satu contohnya adalah berita-berita hoaks yang begitu mudah tersebar dan memengaruhi para penikmat media sosial dan internet. Orang dengan mudah percaya pada berita-berita yang kebenarannya diragukan. Pengaruh buruk begitu mudah tersebar dan diikuti oleh manusia.

Yesus memperingatkan para murid-Nya untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Ragi orang Farisi adalah cara hidup yang diwarnai oleh formalisme agama atau kemunafikan. Orang menjalankan kewajiban agama bukan sebagai upaya penghayatan iman yang dalam, melainkan demi terlihat kudus dan dipuji orang. Tidak jarang mereka menganjurkan orang untuk melaksanakan hukum Taurat, tetapi mereka sendiri tidak melaksanakannya. Mereka mengembangkan kesombongan rohani dan merasa diri paling benar. Sementara itu, ragi Herodes adalah pengaruh buruk untuk menghayati hidup yang diwarnai oleh nafsu berkuasa dan tindakan semena-mena. Yesus mengajak para murid untuk tidak hidup dalam kemunafikan, kesombongan, dan nafsu berkuasa, yang akan membuat mereka sulit menerima dan percaya kepada-Nya sebagai Mesias, Anak Allah.

Pada bagian berikutnya, Yesus menegur para murid atas ketidakmampuan mereka untuk memahami dan percaya kepada-Nya. Perbuatan-perbuatan dan ajaran-ajaran Yesus tidak kunjung membuat mereka menjadi mengerti dan percaya. Mereka masih memperbincangkan tentang ada tidaknya roti. Kebutaan dan ketulian rohani para murid dikecam oleh Yesus. Ragi orang Farisi yang sulit percaya meski sudah ada tanda-tanda rupanya tampak dalam diri para murid Yesus sendiri.

Menjadi murid Yesus berarti memiliki relasi yang akrab dengan sang Guru, melihat perbuatan-Nya, dan mendengarkan ajaran-Nya. Melihat dan mendengarkan dengan baik akan menuntun para murid pada pengertian yang benar dan iman yang kuat. Iman yang kuat akan memampukan seorang pengikut Yesus untuk tidak mengikuti cara hidup orang Farisi yang munafik dan sombong. Pengikut Yesus menjalankan ajaran agama dengan tulus dan jujur bukan untuk mengejar pujian atau popularitas atau kekuasaan. Baik imam maupun awam yang menyebut diri pengikut Yesus harus kuat melawan pengaruh yang jahat dan tidak boleh menjadi penyebar pengaruh buruk. Jadilah ragi yang baik, yang membawa pengaruh yang benar dan yang semakin mendekatkan diri kita dan sesama kepada Tuhan. Relasi yang akrab dan iman yang dalam akan Yesus menjadikan para pengikut Yesus menjadi ragi yang baik bagi dunia.