Mengedepankan Kasih

Sabtu, 24 Februari 2024 – Hari Biasa Pekan I Prapaskah

73

Matius 5:43-48

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

***

Di dunia persilatan seperti yang kita lihat di film-film, balas dendam dipandang sebagai tindakan yang mulia. Ketika pendekar yang satu mengalahkan pendekar yang lain, pihak yang kalah tidak akan melupakan aib itu seumur hidupnya. Segeralah ia mencari guru yang sakti, yang kemudian mengajarinya jurus-jurus rahasia. Demi kehormatan dan harga diri, kekalahan itu harus ditebus suatu hari nanti.

Di dunia nyata, jangan sampai hal itu terjadi. Kalau dituruti, dendam dan kemarahan tidak akan ada habisnya, dan hanya akan menciptakan lingkaran kekerasan yang tak kunjung putus. Mencegah hal itu, Yesus mengajak kita melakukan sesuatu yang radikal: Hentikan kebencian, kasihilah musuh!

Musuh harus dikasihi karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Kita mesti mendoakan mereka agar lekas menjadi sadar atas dosa dan kesalahan yang telah mereka buat. Kedepankan kasih, bukan kebencian. Teladan kita tidak lain adalah Bapa sendiri. Ia menerbitkan matahari dan menurunkan hujan bagi orang baik maupun orang berdosa. Orang berdosa malah secara khusus dicari-Nya untuk diajak kembali.

Sebagai orang berdosa, kita telah merasakan belas kasihan Bapa. Kita diajak untuk ganti berbelaskasihan kepada orang lain. Permusuhan jangan dibalas dengan permusuhan, tetapi balaslah dengan berkat dan salam sejahtera. Memang tidak mudah, namun ajaran luhur ini semestinya semakin membuat kita mengakui keunggulan pribadi Yesus. Lebih lagi, Ia tidak sekadar mengajarkan, tetapi juga melakukannya secara nyata, yakni dengan mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita semua.