Keselamatan untuk Semua Orang

Senin, 4 Maret 2024 – Hari Biasa Pekan III Prapaskah

98

Lukas 4:24-30

Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari Naaman, orang Siria itu.” Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

***

Kita sering kali tergoda untuk memandang masyarakat secara terkotak-kotak. Ada golongan tertentu yang kita anggap memiliki kesempatan untuk menggapai apa pun yang mereka inginkan, tetapi ada pula golongan yang kita anggap tidak memiliki kesempatan untuk itu. Yang satu hidup secara berkecukupan dan seakan-akan memiliki privilese untuk melakukan apa saja, sementara yang lain hidup dalam kemiskinan seakan-akan tidak terjangkau oleh berkat Tuhan. Bacaan Injil hari ini menegaskan bahwa keselamatan dari Tuhan itu sifatnya universal. Semua orang memiliki peluang yang sama untuk memperolehnya.

Setelah mengalami pencobaan di padang gurun, Yesus kembali ke Nazaret dan memulai pelayanan-Nya. Ketika Ia mengajar di Bait Allah, orang-orang terkesan dengan hikmat dan ajaran-Nya. Namun, keadaan berubah ketika Yesus menyatakan bahwa keselamatan tidak hanya untuk orang Yahudi saja, tetapi juga untuk bangsa-bangsa lain. Orang-orang menjadi marah dan menolak kabar baik ini. Mereka tidak menerima bahwa bangsa di luar mereka juga berhak memperoleh keselamatan. Hal ini memperlihatkan betapa sulitnya orang menerima konsep keselamatan yang universal, yang tidak memandang golongan, warna kulit, budaya, atau latar belakang sosial ekonomi.      

Namun, Allah tidak memandang wajah. Ia tidak mencurahkan kasih-Nya kepada seseorang berdasarkan etnis atau kekayaan orang itu. Keselamatan adalah pemberian-Nya kepada setiap jiwa yang bersedia menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat

Terkadang kita tergoda untuk membatasi pandangan kita. Kita memosisikan diri kita di atas orang lain, bahkan merasa lebih berhak menerima kasih dan keselamatan dari Tuhan hanya karena kita telah dibaptis dan menjadi orang Kristen. Kita harus senantiasa sadar untuk membuka hati dan menerima setiap orang sebagai sesama yang berharga di mata Tuhan. Kita harus membuka tangan untuk menyambut dan merangkul setiap orang yang mau datang dan mengalami keselamatan dari Tuhan.

Dalam Masa Prapaskah ini, marilah kita menyadari akan kasih dan keselamatan Tuhan yang tidak terbatas. Marilah kita juga mewartakan kepada lebih banyak orang, terutama yang sedang jauh dari Tuhan dan berada di jalan yang sesat, bahwa Tuhan membuka pintu keselamatan bagi kita semua, bahwa keselamatan Tuhan adalah anugerah yang ditawarkan-Nya kepada semua orang.