Menjadi Saksi Kerahiman Ilahi

Minggu, 7 April 2024 – Hari Minggu Paskah II, Hari Minggu Kerahiman Ilahi

62

Yohanes 20:19-31

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

***

Setiap hari Minggu Paskah kedua, Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Kerahiman Ilahi. Perayaan ini ditetapkan dan dimasukkan dalam Kalender Liturgi Gereja oleh Paus Yohanes Paulus II pada 30 April 2000, tepatnya ketika menganonisasi St. Faustina Kowalska. Pesta Kerahiman Ilahi sejatinya memang bermula dari Devosi Kerahiman Ilahi yang diperkenalkan oleh St. Faustina. Dengan merayakan Pesta Kerahiman Ilahi, seluruh umat manusia, terutama umat kristiani, diundang untuk berusaha dan berpengharapan agar kesewenang-wenangan yang terjadi pada abad ke-20 tidak terulang kembali. Abad ke-20 adalah salah satu abad yang paling mengenaskan sepanjang sejarah peradaban manusia, sebab ditandai oleh terjadinya dua perang dunia, meningkatnya angka kemiskinan dan ketidakadilan, serta beberapa peristiwa genosida yang mengerikan. Karena itu, dunia sangat membutuhkan ingatan akan “hati yang penuh belas kasihan” yang mengejawantahkan belas kasihan Tuhan dan misi besar kita sebagai orang Kristen, yakni menjadi “mercusuar” yang memancarkan belas kasihan Allah, sang Pemberi Hidup, di tengah dunia.

Penginjil Yohanes hari ini mempertemukan kita dengan Yesus yang menampakkan diri kepada para murid-Nya. Setelah peristiwa penyaliban Yesus, keseharian hidup para murid dibayang-bayangi oleh ketakutan yang luar biasa. Mereka takut kepada orang-orang Yahudi, kepada orang Romawi, dan bahkan kepada diri mereka sendiri. Yesus yang bangkit datang menjumpai mereka. Ia memberi salam, “Damai sejahtera bagi kamu!”, seraya memberi mereka tugas pengutusan dan pencurahan Roh Kudus. Pada pertemuan pertama tersebut, Tomas tidak ada bersama para murid lainnya. 

Delapan hari kemudian, para murid kembali berkumpul bersama dalam satu rumah, dan Tomas kali ini ada bersama mereka. Kedatangan Yesus yang pertama tampaknya tidak memberi pengaruh pada keyakinan para murid, sebab keadaan mereka masih sama saja: Mereka ketakutan, sehingga berkumpul di rumah yang serba tertutup. Bagaimanapun, Yesus tetap datang menjumpai mereka kembali. Dia tidak mengutuk, tidak menegur, dan tidak meninggalkan mereka. Yesus sekali lagi hadir di tengah mereka dan memberi salam, “Damai sejahtera bagi kamu!” Khusus kepada Tomas yang kurang percaya, Yesus memperlihatkan tangan-Nya yang terluka karena paku.

Salam Yesus seyogianya menghalau ketakutan, mengubah ketakutan menjadi keberanian dan kesedihan menjadi sukacita. Yesus mengembuskan Roh Kudus. Dengan itu, komunitas baru mulai dibangun. Para murid diberi kepercayaan oleh Yesus untuk membangun kembali dunia ini sesuai dengan rencana agung Allah. Itulah cahaya kerahiman ilahi yang Tuhan inginkan untuk dunia setelah kebangkitan-Nya. Sesungguhnya, peristiwa salib adalah simbol kemuliaan Tuhan dan titik tertinggi cinta ilahi bagi umat manusia. Di atas tubuh sang Tersalib, cinta sejati itu tertulis dalam bilur-bilur luka-Nya.

Sering kali kita juga terkunci di dalam hidup kita oleh sikap egois, acuh tak acuh, dan mau menang sendiri. Kepada kita, Kristus yang bangkit datang tidak hanya untuk menyampaikan salam damai, tetapi juga untuk memberi kita kedamaian. Damai yang datang dari Tuhan akan memasuki lubuk hati kita, menciptakan kehidupan baru, serta menghalau segala ketakutan dan kesulitan yang kita hadapi. Jika dihayati secara mendalam, iman akan Kristus yang bangkit akan membawa kita pada persekutuan yang total dalam cinta persaudaraan dalam rupa semangat untuk saling berbagi dan saling membantu dalam segala hal.

Yesus mengizinkan Tomas untuk menyentuh luka-luka-Nya. Berkaitan dengan itu, Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa kita perlu menyentuh luka-luka sesama kita, yakni orang miskin, orang sakit, dan orang yang menderita. Mereka mewakili wajah-wajah baru yang dengannya kita dapat mempraktikkan pengalaman Tomas. Menyentuh luka-luka mereka berarti mengobarkan solidaritas, memupuk persekutuan dan kehidupan bersama yang harmonis, serta menghadirkan penghiburan yang penuh kelembutan dan kasih sayang kepada mereka yang membutuhkan.

Semoga damai dan belas kasihan Tuhan menguatkan hati dan menerangi langkah hidup kita semua, sehingga kita mampu menjadi saksi kerahiman ilahi di hadapan sesama.