Pekerjaan yang Dikehendaki Allah

Senin, 15 April 2024 – Hari Biasa Pekan III Paskah

73

Yohanes 6:22-29

Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

***

Palestina abad pertama memang tidak ramah. Rakyat jelata hidup merana di bawah penindasan Kekaisaran Romawi. Angka kemiskinan dan pengangguran menjulang. Kelaparan merajalela. Dalam kondisi seperti itu, seseorang yang membagi roti dan ikan gratis untuk lima ribu orang pasti akan menarik pengikut dan fans dengan mudah. Karena itu, orang banyak ingin menjadikan Yesus raja. Anehnya, Yesus justru menyingkir. Betapa berbedanya Tuhan dengan kita yang sering justru mencari dan memperebutkan pangkat serta kuasa!

Aspirasi rakyat tersebut tentu saja wajar, tetapi masih kurang mendalam. Jati diri Yesus belum sungguh mereka kenal. Dari dahulu sampai sekarang, para pengikut-Nya sering hanya berfokus pada status dan manfaat jasmani. Yesus dicari demi roti. Tuhan dipanggil demi yang jasmani. Dengarkan saja semua ujud doa kita: Penuh dengan permintaan akan “makanan yang dapat binasa”. Kita beriman demi kenyang: Kenyang perut, kenyang kuasa, kenyang pujian, dan sebagainya. Kita beragama supaya puas: Puas hati, puas diri, puas rohani, puas psikologis, dan sebagainya.

Yesus tentu saja tidak ingin manusia kelaparan. Ia ingin mengakhiri kelaparan, tetapi tidak mau hanya menjadi tukang memperbanyak roti dan ikan. Yesus meminta kita untuk membuat lompatan kualitas iman. Kualitas iman bukan saja soal kesibukan dan perbuatan, apalagi sekadar soal ibadat dan menjalankan pelbagai aturan dan hukum. Kita dapat saja terjebak seperti pendengar Yesus mula-mula, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Mereka amat menekankan pekerjaan dan upaya manusia, yaitu perbuatan-perbuatan baik yang dikehendaki Allah. Tentu itu semua tidak disangkal, tetapi jelas tidak menentukan. Yesus justru menegaskan satu pekerjaan saja, yakni agar mereka percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.

Pekerjaan yang dikehendaki Allah satu saja, yakni percaya! Hidup sejati adalah anugerah Allah. Kita cukup datang dan percaya kepada Yesus, agar memperoleh hidup sejati itu. Mengapa? Sebab, Dialah sang Firman yang menyatakan dan menghadirkan kasih Allah. Menerima Yesus berarti menerima kasih Allah, dan itu berarti kita mendapat bagian dalam kehidupan ilahi yang sejati.