Akulah Roti Hidup

Selasa, 16 April 2024 – Hari Biasa Pekan III Paskah

72

Yohanes 6:30-35

Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

***

Orang banyak selalu saja menginginkan tanda agar percaya. Mereka butuh “pekerjaan” tertentu dari Yesus: Ia harus melakukan sesuatu yang spektakuler untuk memuaskan mereka, padahal sehari sebelumnya, mereka sudah dipuaskan Yesus dengan roti.

Tanda dan mukjizat tidak pernah memuaskan manusia. Hasrat dan kepuasan manusia memang tanpa batas. Manusia selalu lapar dan dahaga akan pelbagai kenikmatan dan kemudahan. Tanpa itu, sulitlah mereka berkomiten dan berkoalisi. Lihat saja masyarakat kita menjelang pilpres, pileg, dan pilkada: Penuh dengan politik uang, kuasa, dan hasrat. Itu gejala kuno yang selalu baru. Bagi Kekaisaran Romawi, mudah saja memenuhi hasrat rakyat dan bangsa taklukannya: Beri saja mereka makanan dan tontonan. Itu akan membuat rakyat tenang. Mereka tidak berpikir lagi akan kebebasan dan kemerdekaan, apalagi berjuang untuk mendapatkannya.

Yesus tidak mau manusia berhenti di permukaan, yakni pada kepuasaan dan kenikmatan sementara. Ia mau memberi kita kebebasan jiwa dan kesejatian yang lebih dalam. Karena itu, Ia menawarkan “roti hidup”, yaitu makanan yang memberikan hidup sejati dan kekal kepada manusia dan segala makluk. Roti hidup itu bukanlah manna atau makanan biasa, melainkan diri Yesus sendiri. Dialah pemberian dari Bapa bagi dunia; Dialah makanan sejati yang turun dari surga; Dialah satu-satunya pemberi kehidupan sejati bagi manusia dan dunia. Bagaimana cara kita menemukan-Nya? Yesus menegaskan dua “pekerjaan” saja, yakni “datang kepada-Ku” dan “percaya kepada-Ku”.

Inilah pesan Yesus bagi kaum beragama: “Beriman” adalah kata kerja! Beriman bukanlah sekadar perasaan ataupun ritual, melainkan lebih berupa upaya dan komitmen tanpa akhir, penuh keterlibatan, dan perjuangan untuk selalu mengarahkan seluruh diri, misi, dan aksi kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Hanya dengan itu, kita tidak lagi sibuk mencari makanan duniawi yang sementara dan tak bertahan, sebab kita tidak pernah lapar dan haus lagi.