Makan Daging-Ku dan Minum Darah-Ku

Jumat, 19 April 2024 – Hari Biasa Pekan III Paskah

82

Yohanes 6:52-59

Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.

***

Ekaristi versi Injil Yohanes dapat kita temukan dalam bab 6. Yesus mengakhiri wejangan-Nya dengan menegaskan diri-Nya sebagai “roti yang telah turun dari surga”. Siapa yang makan roti itu akan hidup selamanya. Sebelum akhir tersebut, tema inti ditampilkan: Yesus menegaskan tentang “makan daging-Ku” dan “minum darah-Ku”.

Daging dan darah dalam ayat-ayat ini jelas menunjuk pada penderitaan dan wafat Yesus, yaitu pemberian diri-Nya di salib. Ini adalah bukti tertinggi pelayanan Yesus bagi Bapa demi keselamatan umat manusia. Dengan cara itulah Yesus menjadi “roti hidup”, yaitu roti yang memberikan kehidupan sejati dan kekal kepada semua yang percaya kepada-Nya. Menyambut Ekaristi kudus berarti kita percaya bahwa Yesus menjadi roti atau makanan hidup sejati bagi kita melalui pelayanan-Nya sampai wafat di salib.

Mengapa Yesus memakai ungkapan yang begitu realisitis, sehingga para pendengar memahaminya sebagai kanibalisme? Mungkin saja penginjil Yohanes ingin menjawab keberatan orang yang kurang percaya pada kemanusiaan Yesus. Yang pasti, Yesus ingin menegaskan bahwa persatuan dengan Dia adalah persatuan yang real dan konkret, bukan hanya rohani. Artinya, Ia sungguh hadir di tengah umat yang merayakan Ekaristi. Ia hadir secara real dan nyata di tengah kita yang percaya.

Dengan itu, kita menerima hidup dari-Nya. Konsekuensinya juga harus realistis dan konkret: Karena kita hidup dari Dia, hidup kita seharusnya juga hidup seperti Dia, yakni hidup yang melayani dan memberi diri sampai tuntas. Merayakan Ekaristi harus juga bermuara pada hidup sehari-hari yang saling mengasihi dan melayani.