Dukacita Akan Berubah Menjadi Sukacita

Jumat, 10 Mei 2023 – Hari Biasa Pekan VI Paskah

68

Yohanes 16:20-23a

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu darimu. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku.”

***

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita jumpai orang yang bersukacita di atas dukacita orang lain. Sementara orang lain mengalami penderitaan, orang ini justru mensyukuri hal itu, bahkan tidak segan untuk menunjukkannya secara terbuka. Dasar dari sikap itu adalah ketidaksukaan dan kebencian. Karena alasan itu, kemalangan seseorang tidak membangkitkan rasa simpati, empati, dan belas kasihan dalam dirinya, tetapi malahan perasaan menang dan puas.

Dunia bersukacita atas kematian Yesus. Kematian Yesus yang hina dan tragis di kayu salib disambut oleh lawan-lawan-Nya dengan tepuk tangan dan sorak-sorai. Kemarahan dan kebencian mereka terhadap Yesus terpuaskan sudah. “Kemenangan ada di pihak kita!” demikian mereka berkata. Karena berpandangan bahwa Yesus adalah pendosa dan penghujat Allah, mereka merasa diri benar melakukan pembunuhan atas nama agama terhadap-Nya.

Berbeda halnya dengan murid-murid Yesus. Kematian Yesus membuat mereka terkejut, terpukul, dan sangat berdukacita. Bagaimana tidak, sang Guru diambil dari mereka dengan cara yang brutal. Mempersiapkan mental murid-murid-Nya dalam menyongsong momen yang mengerikan itu, Yesus memberikan wejangan peneguhan. Para murid memang akan berdukacita, tetapi dukacita mereka sesungguhnya seperti dukacita seorang perempuan yang akan melahirkan. Apa maksud analogi tersebut?

Ketika melahirkan, seorang perempuan pasti merasakan sakit yang amat sangat. Dia boleh dikatakan menderita dan menanggung dukacita. Namun, hal itu hanya sementara, sebab akan segera berganti dengan sukacita, yakni ketika anak yang dirindukan akhirnya lahir dengan selamat. Dukacita perempuan itu besar, tetapi sukacita yang dirasakannya lebih besar lagi. Demikianlah juga yang akan dialami oleh murid-murid Yesus. Mereka harus menyadari bahwa dukacita yang akan mereka alami karena kematian Yesus hanya sementara saja. Kebangkitan Yesus akan menghapus itu semua dan mengubahnya menjadi sukacita sejati.

Mungkin para murid berharap jangan sampai Yesus mengalami penderitaan dan mati di kayu salib. Namun, mereka harus menyadari bahwa tanpa penderitaan, tidak akan ada kemuliaan; tanpa dukacita, tidak akan ada sukacita; tanpa kepergian, tidak akan ada kedatangan kembali; tanpa kematian, tidak akan ada kebangkitan. Jalan salib adalah jalan yang harus dilalui Yesus untuk kembali kepada Bapa dan bertakhta bersama-Nya.

Bacaan Injil hari ini mengirim pesan kepada kita: Hendaknya dukacita dalam kehidupan ini tidak membuat kita terpuruk berkepanjangan. Jangan sampai kita dikalahkan oleh penderitaan yang menimpa kita! Hidup itu dinamis, di mana tawa dan tangis senantiasa datang silih berganti. Karena itu, ketika bersedih janganlah kita lalu berputus asa, sebab kesedihan itu pada saatnya akan berubah menjadi kegembiraan. Sebaliknya, ketika bergembira janganlah kita lalu lupa diri, sebab kegembiraan itu sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kesedihan.

Apa pun keadaan diri kita, apa pun yang terjadi pada diri kita, mari kita ingat bahwa Yesus sudah kembali kepada Bapa. Maut benar-benar telah dikalahkan-Nya. Kemenangan Yesus itu adalah kemenangan kita juga. Sukacita sejati akan kita rasakan, sebab dengan itu dinyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang akan sanggup mengalahkan kita, sejauh kita beriman kepada-Nya.