Menjadi Semakin Ilahi Sekaligus Semakin Insani

Kamis, 06 Juni 2024 – Hari Biasa Pekan IX

72

Markus 12:28b-34

Seorang ahli Taurat datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

***

Dalam kehidupan, sering kali kita jumpai praktik keagamaan yang jatuh ke dalam dua ekstrem. Ada orang yang selalu mengagung-agungkan Tuhan, tetapi tidak peduli pada sesama di sekitarnya. Ia terlalu menekankan pentingnya peribadatan, lupa bahwa ada sesama yang perlu disapa. Ia berpikir seolah-olah Tuhan terpisah dari kehidupan manusia. Di sisi lain, ada orang yang terlalu menekankan praktik kebaikan sosial, namun lupa untuk menyediakan waktu bagi Tuhan. Baginya, realitas yang nyata lebih penting daripada Tuhan yang tidak kasatmata.

Di balik hal itu, ada pemahaman yang tidak pas, yakni pemisahan secara ekstrem antara yang kudus dan kehidupan dunia nyata, antara yang ilahi dan yang insani, antara “altar” dan “pasar”. Dalam peristiwa inkarnasi, penjelmaan Allah menjadi manusia dalam diri Yesus kiranya menjadi jawaban atas semua permasalahan ini. Allah berkenan menjadi manusia; Yang Ilahi hadir dalam tubuh insani; Yang Kudus berkenan tinggal di tengah-tengah dunia yang fana. Peristiwa inkarnasi dan penebusan oleh Yesus mengangkat manusia insani menjadi semakin ilahi. Manusia dengan segala kelemahan dan kerapuhannya diangkat untuk terus menjadi sempurna sebagaimana hakikatnya, yakni secitra dengan Allah.

Bacaan Injil hari ini menegaskan kembali kesatuan antara yang ilahi dan yang insani tersebut dalam perintah utama yang disampaikan oleh Yesus, yakni mengasihi Allah dan sesama manusia dengan sepenuh hati. Dua perintah itu tidak saling bertentangan, tetapi merupakan satu kesatuan yang sempurna. Kasih kepada Allah harus terwujud nyata dalam kasih kepada sesama; dan kasih kepada sesama adalah tanda nyata kasih kepada Allah yang hadir dalam diri mereka.

Saudara-saudari yang terkasih, semoga perintah Yesus ini menjadi pedoman hidup bagi kita, umat kristiani. Semoga kita tidak jatuh dalam dua praktik hidup keagamaan yang ekstrem, yakni terlalu menekankan peribadatan dan aturan-aturan suci, tetapi melupakan kasih dan kebaikan kepada sesama; atau sebaliknya, terlalu fokus pada aktivitas sosial, tetapi melupakan Tuhan. Sebagaimana Yesus, semoga kita dari hari ke hari semakin tertantang untuk menjadi sempurna: Menjadi semakin ilahi sebagai citra Allah dengan menghidupi hidup yang penuh kasih, serta menjadi semakin insani dengan menjadi sesama yang baik bagi yang lain.