Menjadi Masyarakat yang Peduli

Senin, 10 Juni 2024 – Hari Biasa Pekan X

37

Matius 5:1-12

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

***

Galilea terletak di luar arus utama kehidupan orang Yahudi. Kota ini bukan pusat keagamaan ataupun intelektual, juga tidak mempunyai kekuatan politik. Namun, Galilea berhubungan dengan perdagangan dan budaya dunia. Oleh karena itu, Galilea menjadi wilayah yang sangat kosmopolitan. Masyarakat dari berbagai latar belakang etnik menghuni wilayah ini, sehingga sangat beragam dalam hal budaya dan agama.

Seperti terjadi pada kota-kota kosmopolitan zaman ini, di Galilea pun kemiskinan menjadi masalah sosial. Tidak hanya itu, situasi budaya orang Galilea menghasilkan kecurigaan bahwa mereka “tidak cukup Yahudi”. Percampuran budaya menghasilkan tuduhan “najis” untuk mereka. Orang Galilea sering direndahkan dan ditolak oleh orang-orang Farisi dan para imam di Yerusalem.

Namun, di tempat inilah Yesus menyampaikan sabda bahagia. Ia menyapa orang terpinggirkan dengan pesan yang menggugah hati, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”

Apa implikasinya? Berkat Yesus bagi orang-orang miskin dan terpinggirkan bukan bermaksud menghibur situasi mereka yang kekurangan. Meskipun mereka miskin secara materi, mereka kaya secara rohani. Perkataan Yesus ini bisa menjadi sebuah seruan atau dakwaan kepada masyarakat yang tidak peduli pada realitas kemiskinan dan ketidakadilan.

Melalui bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan bahwa memperhatikan sesama adalah tanggung jawab masyarakat. Tuhan mengingatkan dan memanggil setiap anggota masyarakat untuk bertanggung jawab atas keresahan bersama. Kita dipanggil untuk mengasihi dan peduli pada sesama terutama yang terpinggirkan.