Sumpah dan Nazar

Sabtu, 15 Juni 2024 – Hari Biasa Pekan X

71

Matius 5:33-37

“Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat.”

***

Bacaan Injil hari ini membahas tentang sumpah dan nazar. Lebih spesifik lagi, Yesus berbicara tentang penggunaan nama Allah untuk memeteraikan sebuah janji. Berbicara tentang sumpah, dalam konteks Israel, kita dapat membandingkannya dengan Bil. 30:2 yang menyatakan: “Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu; haruslah ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya.” Di kalangan orang Israel, bersumpah berarti mengikat diri dalam suatu kontrak. Melanggar sumpah kepada Tuhan membawa konsekuensi yang parah.

Kita hidup dalam budaya di mana kebenaran sering kali menjadi korban pertama dalam interaksi antarmanusia. Dalam dunia hukum ada pengacara, kontrak, notaris, dan tanda tangan yang mengikat untuk memastikan bahwa setiap orang melakukan apa yang dikatakannya. Kita bertanya-tanya mengapa orang-orang kesulitan mengatakan kebenaran satu sama lain.

Pada poin ini, kita dapat mengambil pelajaran dari pesan Yesus hari ini. Kejujuran rasa-rasanya memang menjadi barang mahal di dunia yang dipenuhi dengan kepalsuan dan kebohongan. Melalui media massa, dalam dunia politik, kebohongan menjadi konsumsi harian. Masyarakat menjadi sulit untuk membedakan mana yang benar-benar sebuah informasi dan mana yang merupakan berita hoaks.

Yesus mengajarkan bahwa nilai seseorang ditentukan dari apa yang diucapkannya dan bagaimana perkataannya selaras dengan perbuatan. Bertindak jujur akan menjadikan kita sahabat untuk semua. Kejujuranlah yang akan membuat kita dilihat sebagai pribadi yang punya integritas dan dapat dipercaya.