Kasihilah Musuhmu

Selasa, 18 Juni 2024 – Hari Biasa Pekan XI

98

Matius 5:43-48

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

***

Apa yang dimaksud Yesus dengan “kasihilah musuhmu”? Dalam bahasa Yunani ada empat kata untuk menunjukkan macam-macam jenis kasih. Storgi-stergein menunjukkan kasih dalam relasi keluarga, misalnya kasih orang tua terhadap anak mereka; eros-eran menunjukkan hasrat manusia yang mengarah pada dorongan seksual; philia-philein menunjukkan kasih pada sahabat sejati; kemudian ada agape-agapan yang menunjukkan kasih dengan kehendak baik yang kokoh, yang tidak dapat ditaklukkan.

Dalam agape, tidak peduli apa pun yang dilakukan orang lain terhadap kita, entah itu mencemooh atau melukai kita, kita tidak akan membiarkan kebencian atau kepahitan terhadap dirinya menguasai hati kita. Agape adalah kebajikan yang tidak terpatahkan, yang dengannya kita mampu menghadapi cemooh, fitnah, dan kebencian. Dengan agape, kehendak kita adalah melulu mencari kebaikan tertinggi.

Perlu digarisbawahi bahwa agape bukan berarti membiarkan orang melakukan segala sesuatu semaunya dia. Kejahatan yang dilakukan seseorang sudah selayaknya mendapatkan hukuman. Namun, hukuman yang berdasarkan agape bukanlah hukuman untuk memuaskan nafsu balas dendam, nafsu kuasa, atau nafsu kerakusan dalam diri kita, melainkan untuk kebaikan pelaku kejahatan tersebut. Kita mengupayakan agar orang itu bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Kasih terhadap kekasih biasanya muncul secara spontan, tidak terduga, dan tidak rasional. Dalam relasi dengan keluarga, kasih tumbuh secara alami. Tidak dibutuhkan upaya yang sulit untuk mencintai sahabat kita. Dengan mudah, kita bisa saling memahami dan menerimanya.

Berbeda halnya dengan agape. Agape bukan sekadar perasaan yang muncul dari hati, yang kemunculannya tidak dapat ditolak. Agape mensyaratkan kesadaran pikiran dan kehendak yang kuat untuk mewujudkannya. Agape bukan sesuatu yang spontan, tetapi niat yang harus terus-menerus diupayakan secara sadar. Agape tidak tumbuh secara alami. Agar agape bisa tumbuh, dibutuhkan kedisiplinan dan tekad. Agape adalah kekuatan untuk mencintai orang yang tidak kita sukai dan yang tidak menyukai kita. Manusia secara alami mudah jatuh ke dalam amarah, kepahitan, dan kebencian. Untuk menaklukkan kecenderungan destruktif itu, kita hanya bisa mempunyai agape jika Yesus sendiri yang memampukan kita.

Agape adalah rahmat yang perlu kita mohon dari Yesus lewat doa-doa pribadi kita. Di dalam doa, sambil memohon rahmat agape, kita mohonkan pula kebaikan bagi orang yang kita benci dan yang membenci kita.