Yesus Tidur

Selasa, 2 Juli 2024 – Hari Biasa Pekan XIII

72

Matius 8:23-27

Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

***

Dalam hidup doa, tidak sedikit orang yang telah melakukannya dengan tekun dan bersungguh-sungguh melalui segala upaya, baik doa formal, novena, maupun laku ziarah, bahkan dengan disertai praktik pantang dan puasa. Akan tetapi, Tuhan dirasakan tidak peduli. Beberapa orang lantas memiliki perspektif seperti para murid dalam bacaan Injil hari ini yang gusar mendapati Yesus sedang tidur.

Shusaku Endo, dalam novel karyanya yang berjudul Silence (1966), merefleksikan pengalaman sejarah ketika misionaris Jesuit di Jepang menghadapi penindasan pada abad ke-17. Sang penulis bertanya-tanya sambil merenung, “Benarkah Tuhan hanya diam berpangku tangan melihat penderitaan manusia?” Pertanyaan itu menyentak kesadaran iman kita, dan tetap sulit untuk dijawab.

Kita belajar dari bacaan Injil hari ini, yang mana para murid digambarkan begitu cemas akan mati tenggelam ketika sekonyong-konyong perahu mereka diterjang badai yang besar. Mereka lupa bahwa Yesus bersama mereka dalam perahu itu. Mereka juga lupa bahwa mereka hanya mengikut kapal yang ditumpangi Yesus.

Yesus adalah sang Imanuel, Allah beserta kita. Allah telah memutuskan dalam kekekalan-Nya bahwa Dia tidak akan hanya tinggal dalam kemuliaan di surga, tetapi mau hadir di tengah segala pergumulan manusia (bdk. Latihan Rohani no. 102). Tuhan akan berada dalam satu perahu dengan manusia, termasuk dengan segala badai dan angin topan yang menerpanya.

Dari pengalaman kecemasan para murid Yesus, kita belajar bahwa sikap batin yang perlu dibangun adalah keyakinan bahwa Tuhan ada bersama kita. Sikap batin ini penting untuk selalu dipegang dalam hidup kita, agar kita dijauhkan dari segala kecemasan yang bisa terjadi karena kekhawatiran kita sendiri. Kita merasa kecil hati karena terlalu fokus pada beratnya beban kehidupan dan gelapnya jalan yang sedang kita tempuh. Kita sering lupa bahwa ada Tuhan yang selalu bersama kita dan menerangi setiap jalan kita. Manusia sering digambarkan seperti biduk kecil di tengah samudra dengan gelombang-gelombangnya yang besar. Satu hal yang mesti kita ingat: Tuhan ada bersama kita. Sang Perkasa pasti akan selalu memberi kita perlindungan, sehingga hidup kita senantiasa tenang dan aman.