Belas Kasihan Yesus

Selasa, 9 Juli 2024 – Hari Biasa Pekan XIV

64

Matius 9:32-38

Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

***

Ada dua kisah dalam bacaan Injil hari ini. Keduanya mengenai belas kasihan Yesus. Dalam kisah pertama, Yesus menunjukkan belas kasihan-Nya kepada seorang yang bisu karena dirasuki setan. Orang ini dibungkam oleh setan. Kebisuannya bukan kehendak Tuhan. Melihat itu, Yesus berkenan memulihkan kebebasan dan martabatnya sebagai manusia.

Pemulihan sekaligus pembebasan dari roh jahat ini mengundang berbagai reaksi. Orang banyak yang menyaksikan hal itu menjadi takjub dan mengakui bahwa hal seperti itu belum pernah dilihat di Israel. Bisa dikatakan bahwa ini reaksi positif. Rasa takjub umumnya kemudian melahirkan rasa percaya. Sebaliknya, orang Farisi yang memang sering dikritik Yesus karena arogansi dan kemunafikan mereka, langsung menuding bahwa Yesus menggunakan kuasa pemimpin setan untuk mengusir setan.

Orang Farisi hanya berfokus pada sosok Yesus, bukan pada karya-Nya. Dibutakan oleh niat jahat untuk mencari kesalahan Yesus agar bisa menjatuhkan-Nya, mereka tidak mampu melihat kebesaran mukjizat Allah yang terjadi melalui diri si bisu. Kebebasan sesamanya dari kuasa roh jahat tidak mereka tanggapi dengan rasa syukur akan rahmat belas kasihan Allah. Fokus yang salah mengakibatkan mereka gagal mengenali kebesaran Allah, sekaligus gagal memberikan dukungan yang dibutuhkan sesama.

Misi Yesus adalah misi belas kasihan. Ia selalu berjalan berkeliling dan menebar belas kasihan. Yesus selalu tergerak oleh belas kasihan kepada orang-orang, terutama yang lelah dan telantar. Yesus mewartakan Injil kepada mereka, orang-orang yang menderita dan membutuhkan Kabar Baik itu. Bukan itu saja, Ia juga melenyapkan segala penyakit dan kelemahan, agar orang-orang terbebas dari kuasa kejahatan dan dapat hidup dalam sukacita.

Yesus selalu mengajar karena Ia ingin semua orang mengenal firman Tuhan dan kemudian menebarkan belas kasihan seperti yang diteladankan-Nya. Yesus ingin murid-murid-Nya, dahulu dan sekarang, termasuk kita juga, bisa menolong lebih banyak jiwa. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Mungkin kita sendiri pun pernah merasa kewalahan, melihat begitu banyak yang membutuhkan pertolongan, sementara waktu dan tenaga kita terbatas, sehingga hanya bisa menolong segelintir orang saja. Itu membuat hati kita ragu dan langkah kita mulai surut, sebab apa yang kita lakukan sepertinya sia-sia belaka. Jika itu terjadi, ingatlah pada pesan Yesus saat Ia melihat begitu banyak domba yang tidak bergembala dan membutuhkan bantuan, “Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Jadi, tetaplah menebar belas kasihan, dan percayalah selalu bahwa Tuhan pasti akan mengirimkan pekerja-pekerja lain untuk ikut menuai di ladang-Nya.