Berusaha Menduduki Tempat-tempat Kehormatan

Minggu, 31 Agustus 2025 – Hari Minggu Biasa XXII

23

Lukas 14:1,7-14

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

***

Ketika menonton di bioskop, kita pasti akan mencari kursi yang paling enak untuk melihat layar. Begitu juga ketika naik pesawat, kita bisa jadi memilih kursi yang dekat pintu darurat karena lebih lega. Sementara itu, pada saat misa, doa lingkungan, doa rosario bersama, pendalaman Kitab Suci, renungan APP, dan lain-lain, banyak umat Katolik yang memilih duduk di belakang supaya tidak ditunjuk untuk bertugas atau supaya bisa cepat pulang. Begitulah, pada umumnya, kita suka mencari tempat terbaik dalam acara resmi, pertemuan informal, di rumah, di meja makan, dan di mana pun.

Setiap pilihan akan tempat duduk memiliki motivasinya sendiri-sendiri. Para tamu dalam bacaan Injil hari ini berusaha supaya bisa duduk di tempat-tempat terhormat. Dalam budaya kita, tempat terhormat ada di depan, biasanya jenis kursinya sofa, di mana di depannya ada meja lengkap dengan hidangannya. Orang yang duduk di tempat terhormat pasti menjadi perhatian dan mendapat perlakuan istimewa.

Yesus mengomentari hal itu. Ia tahu kecenderungan kita untuk melebih-lebihkan diri sendiri karena kesombongan atau, lebih buruk lagi, karena kesombongan yang tidak disembunyikan. Yesus bukan sekadar mengomentari, mengkritik, atau mengingatkan orang tentang bahaya kesombongan. Ia sendiri mengajarkan dan bahkan memberi contoh untuk mengambil tempat yang paling rendah, yaitu palang salib. Dengan pilihan-Nya yang radikal itu, Ia menyelamatkan kita.

Tuhan menganjurkan supaya kita memilih tempat yang paling rendah. Pilihan ini bisa menghindarkan kita dari rasa malu: Sudah bangga duduk di tempat terhormat, ternyata tempat itu dipersiapkan bagi orang lain. Siapa yang tidak malu kalau diminta pindah dari tempat kehormatan ke tempat lain? Selain sebagai langkah antisipasi supaya tidak malu, pilihan untuk duduk di tempat terendah juga merupakan solidaritas kita kepada orang miskin dan mereka yang diabaikan, orang-orang yang selalu ditempatkan di tempat yang rendah. Inilah cara yang bisa kita tempuh untuk mengatasi kesombongan dan rasa malu.