Tetap Setia, meski Dunia Menilai Salah

Jumat, 12 Desember 2025 – Hari Biasa Pekan II Adven

51

Matius 11:16-19

“Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”

***

Ada seorang suster yang sejak muda hingga saat ini selalu mengunjungi sebuah keluarga miskin yang tinggal di pinggiran kota. Suster itu membawa makanan atau sedikit kebutuhan harian yang bisa dia bawa, mendengarkan keluh kesah mereka, dan menyapa anak-anak mereka. Ada yang memuji pelayanan suster tersebut, namun tidak sedikit juga yang mengkritik bahwa itu hanyalah pencitraan, membuatnya terlalu sering keluar rumah, dan sebagainya. Apa yang ia lakukan seakan-akan selalu salah di mata sebagian orang. Namun, semua tanggapan itu tidak menyurutkan niat suster ini. Ia tetap melanjutkan pelayanannya dengan tenang. Ia berkata, “Kalau saya berhenti hanya karena penilaian orang, siapa yang akan menjadi tangan Tuhan di tempat ini?”

Kisah seperti itu sering terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita ingin melakukan sesuatu yang baik, ada saja suara-suara yang menilai, mengkritik, bahkan meremehkan. Itulah yang diungkapkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Yesus menggambarkan generasi yang dihadapi-Nya sebagai orang-orang yang tidak pernah puas, yang melihat orang lain serba salah: Yohanes Pembaptis yang tidak makan dan minum dianggap terlalu keras; Yesus sendiri dianggap terlalu dekat dengan orang berdosa. Dua pribadi yang sama-sama melakukan kehendak Allah justru dinilai salah oleh banyak orang.

Pada Masa Adven ini, kita diajak untuk merenungkan betapa kita sering menjadi seperti generasi tersebut: Mudah menghakimi, cepat menilai, suka membandingkan, dan gemar mencari kekurangan orang lain. Namun, di sisi lain, kita pun sebagai murid Kristus kadang mengalami nasib serupa: Niat baik kita sering ditafsirkan buruk, pelayanan tulus kita dianggap mencari perhatian, kelembutan kita dianggap sebagai sikap yang lemah, dan sebagainya. Yesus tidak meminta kita menjadi sempurna di mata manusia, tetapi untuk tetap setia melakukan kehendak Bapa. Kesetiaan inilah yang menjadi inti Masa Adven. Kita diajak untuk menata hati, komitmen, dan langkah hidup kita agar selalu mengarah pada Tuhan, meski dunia tidak selalu memahaminya.

Di tengah dunia yang semakin bising dengan opini, komentar, dan penilaian cepat, kita diajak untuk memiliki keteguhan hati yang lahir dari relasi mendalam dengan Allah. Yesus dan Yohanes Pembaptis menjadi teladan bagaimana hidup yang sungguh-sungguh mengutamakan kehendak Tuhan daripada suara manusia. Yohanes menjalani hidup yang keras dan disiplin, sedangkan Yesus hadir dengan kasih dan kedekatan pada semua orang termasuk yang dianggap sebagai pendosa. Dua cara hidup itu berbeda, namun sama-sama benar karena keduanya taat pada kehendak Allah.

Dalam hidup sehari-hari, kita akan selalu bertemu dengan situasi yang membuat kita merasa serba salah. Namun, kita diajak untuk kembali kepada hal yang utama: Apakah yang saya lakukan ini selaras dengan kehendak Allah? Jika ya, tetaplah setia. Masa Adven menjadi kesempatan untuk menata kembali fokus kita. Kita tentu tidak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan atau katakan tentang kita, tetapi kita bisa mengontrol hati kita sendiri untuk selalu berjalan dalam terang Kristus, membiarkan kasih-Nya membimbing, dan tidak terpengaruh pada komentar-komentar yang melemahkan.

Semoga kita mampu belajar dari Yesus dan Yohanes Pembaptis, dua pribadi yang berbeda tetapi satu dalam kesetiaan. Semoga kita memiliki keberanian untuk tetap setia berbuat baik dan melaksanakan kehendak Bapa meski dunia tidak selalu mengerti, sehingga kita mampu menjadi pembawa terang dan kebenaran-Nya dengan penuh sukacita. Top of Form

Bottom of Form