Harapan bagi Hati yang Lelah

Kamis, 8 Januari 2026 – Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan

50

Lukas 4:14-22a

Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya.

***

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus kembali ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan. Ia masuk ke sinagoge pada hari Sabat, dan membaca nubuat Yesaya tentang Roh Tuhan yang mengurapi hamba-Nya untuk membawa kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi para tawanan, penglihatan bagi yang buta, serta kebebasan bagi yang tertindas. Setelah itu Ia berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini.”

Kata-kata Yesus ini menyentuh dimensi terdalam dari misi-Nya, bahwa kehadiran-Nya menjadi pemenuhan janji Allah. Yesus tidak hanya mengajar tentang belas kasihan dan pembebasan. Ia menjadi belas kasihan itu; Ia menjadi pembebasan itu. Kehadiran-Nya membawa terang baru bagi mereka yang berada dalam kegelapan, harapan bagi hati yang lelah, dan jalan keluar bagi hidup yang terjebak dalam ketakutan.

Saat merenungkan perikop ini, kita diajak untuk bertanya: Bagian mana dalam diri kita yang masih miskin, tertawan, atau buta? Mungkin kita miskin akan damai, tertawan oleh kekhawatiran yang tidak kunjung selesai, atau buta terhadap kebaikan Tuhan karena terlalu fokus pada kesulitan. Yesus datang bukan untuk menghakimi kondisi itu, melainkan untuk menyentuhnya dan memulihkannya dari dalam.

Ada kalanya kita lupa bahwa karya Roh Kudus sedang berlangsung dalam hidup kita sehari-hari: Dalam keputusan kecil untuk tetap baik meski lelah, dalam keberanian untuk memaafkan, juga dalam kekuatan untuk bangkit setelah jatuh. Roh Tuhan yang mengurapi Yesus adalah Roh yang sama yang menyertai Gereja dan tinggal dalam hati kita. Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa pembebasan itu bukan sesuatu yang jauh atau abstrak, melainkan hadir di tengah realitas sederhana hidup kita.

Yesus membaca Kitab Suci di hadapan orang-orang sekampung-Nya. Mereka mengenal keluarga-Nya, masa kecil-Nya, dan kesederhanaan hidup-Nya. Justru dari kesederhanaan itulah tampak bahwa Allah bekerja melalui hal-hal yang tidak mencolok. Begitu pula dalam hidup kita, karya Tuhan sering hadir bukan dalam hal-hal besar, melainkan dalam kesetiaan kecil yang kita lakukan setiap hari.

Marilah kita membuka diri pada karya Roh Tuhan yang terus bekerja dalam keheningan. Marilah kita memberi ruang bagi Yesus untuk menyatakan “pada hari ini” dalam hidup kita, hari di mana penghiburan ditemukan, luka mulai disembuhkan, dan terang kecil mulai menuntun jalan kita. Setiap hari, Tuhan ingin berkata kepada kita bahwa janji itu sedang digenapi, dan kita tidak ditinggalkan.