Kesaksian Yohanes Pembaptis

Sabtu, 10 Januari 2026 – Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan

31

Yohanes 3:22-30

Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.

Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

***

Murid-murid Yohanes Pembaptis gelisah. Mereka melihat Yesus makin dikenal, sementara popularitas guru mereka mulai berkurang. Dalam kerangka manusiawi, ini tampak seperti persaingan. Namun, jawaban Yohanes justru mengungkapkan kedalaman rohani yang luar biasa. Yohanes berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Kata-kata ini bukan sekadar ungkapan kerendahan hati. Ini merupakan ungkapan iman Yohanes yang menyatakan siapa dirinya dan siapa Yesus. Yohanes memahami bahwa seluruh hidupnya adalah untuk mempersiapkan kedatangan Mesias. Ia tahu tempatnya, tahu perannya, dan tahu kapan waktunya untuk menepi. Dalam dunia di mana manusia cenderung ingin mendapat pengakuan, dihargai, dan dilihat, Yohanes justru mengajarkan kemerdekaan sejati: Merdeka dari kebutuhan untuk menjadi pusat.

Mari kita melihat ke dalam hati kita masing-masing: Apakah kita masih ingin “menjadi besar” dengan cara kita sendiri? Sering kali kita ingin agar rencana kita berjalan sesuai keinginan, ingin dipuji dalam pelayanan, ingin dihargai dalam keluarga atau pekerjaan, atau ingin nama kita diingat. Kita tidak salah memiliki keinginan untuk berbuat baik, tetapi sering kali tanpa sadar kita menuntut pengakuan.

Yohanes mengingatkan kita bahwa sukacita sejati tidak berasal dari posisi sebagai pusat perhatian, tetapi ketika kita melihat bahwa karya Allah dapat terwujud. Yohanes berkata bahwa sukacitanya menjadi penuh ketika melihat bahwa sang mempelai laki-laki hadir dan karya-Nya bertumbuh. Yohanes bersukacita bukan karena dirinya dihormati, melainkan karena kehendak Allah terlaksana.

Yesus juga harus makin besar dalam kehidupan kita: Dalam cara kita berpikir, dalam cara kita berbicara, dan dalam pilihan-pilihan yang kita ambil. Kita sendiri harus makin kecil, yakni ego kita, ambisi yang tidak murni, keinginan untuk mengontrol segalanya, serta suara batin yang menuntut pengakuan. Menjadi kecil bukan berarti tidak berharga. Justru ketika kita mengecilkan diri, hati kita menjadi ruang yang lebih luas bagi Tuhan untuk berkarya.

Ada saat-saat di mana Tuhan mengundang kita untuk menjadi seperti Yohanes, yakni untuk menepi, memberi ruang, atau melepaskan. Mungkin kita harus melepaskan rencana yang tidak berjalan, menerima bahwa yang dipakai Tuhan adalah orang lain, mengalah dalam relasi demi perdamaian, atau merendahkan hati ketika pelayanan kita tidak terlihat. Dalam situasi itu, kita belajar bahwa kebesaran sejati adalah menjadi saksi, bukan menjadi pusat.

Ketika Yohanes berkata, “Ia harus makin besar,” ia sedang mengungkapkan kerinduan terdalam seorang murid, bahwa hidupnya menjadi cermin yang memantulkan Kristus. Kiranya kita pun makin menjadi pribadi yang membiarkan cahaya Tuhan bersinar, sehingga orang melihat bukan kita, melainkan Dia yang hidup dalam kita.