Rahmat Baptisan

Minggu, 11 Januari 2026 – Pesta Pembaptisan Tuhan

41

Matius 3:13-17

Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

***

Hari ini, Gereja merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Peristiwa ini menandai awal karya Yesus di dunia. Injil Matius mengisahkan bahwa Yesus datang kepada Yohanes di Sungai Yordan untuk dibaptis. Yohanes merasa terkejut, sebab ia tahu bahwa Yesus yang tidak membutuhkan baptisan pertobatan. Namun, meskipun dicegah Yohanes, Yesus memilih untuk turun ke dalam air dan dibaptis. Ia berkata, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”      

Ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan merupakan pewahyuan tentang pribadi Yesus, serta undangan bagi kita sebagai orang yang dibaptis. Berkaitan dengan itu, ada tiga pokok penting yang bisa kita renungan pada hari ini. Pertama, tindakan Yesus ini menunjukkan sikap kerendahan hati. Sebagai Anak Allah dan pribadi yang tanpa dosa, Yesus rela berdiri di antara para pendosa dan menyatukan diri dengan mereka. Yesus merendahkan diri-Nya. Ia menunjukkan kepada kita bahwa jalan keselamatan bukanlah jalan keangkuhan, melainkan jalan kerendahkan hati. Kerendahan hati Yesus ini mengajak kita untuk tidak hidup dengan berjarak, tetapi dengan kedekatan relasi dengan sesama. Melalui Yesus, Allah tidak hanya menjadi manusia, tetapi juga masuk ke dalam solidaritas penuh dengan manusia.

Kedua, dikisahkan bahwa ketika Yesus keluar dari air, langit terbuka dan Roh Kudus turun ke atas-Nya dalam rupa seperti burung merpati. Kehadiran Roh Kudus ini menandakan pengurapan atas diri Yesus untuk mulai berkarya di tengah dunia, yakni dengan mewartakan Kerajaan Allah, menyembuhkan, mengampuni, dan menguatkan yang tertindas.

Ketiga, Matius mencatat bahwa ada suara yang berseru, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Pernyataan surgawi ini mengingatkan kita bahwa Allah selalu mencari jalan untuk masuk ke dalam hidup kita, dan melalui Yesus, hubungan kita dengan-Nya dipulihkan.

Selanjutnya, Pesta Pembaptisan Tuhan mengingatkan kita akan rahmat baptisan kita sendiri. Bagi kita orang Katolik, baptis adalah anugerah terbesar, sebab melaluinya kita menjadi anak-anak Allah dan ambil bagian dalam misi Kristus di tengah dunia. Sebagai orang yang dibaptis, kita menjadi pengikut Kristus, yang berarti dituntut untuk meneladan hidup-Nya, yakni mewartakan kabar baik dan membawa terang bagi sesama. Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang murah hati, lembut, dan penuh kasih. Barangkali kita tidak dapat melakukan hal-hal besar, tetapi kita dapat melakukan hal-hal sederhana setiap hari, yakni menghibur yang berduka dan putus asa, menjadi pembawa damai di tengah pertikaian, menghargai martabat manusia, memperjuangkan keadilan, serta membantu mereka yang membutuhkan. Sebagai orang yang dibaptis, kita dipanggil untuk meneladan hidup Kristus dalam cara kita berbicara, dalam cara kita memperlakukan sesama, dalam semangat mengampuni, serta dalam mencintai tanpa pamrih.

Semoga Pesta Pembaptisan Tuhan yang kita rayakan hari ini membangkitkan kembali kesadaran iman dan pengharapan kita bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri. Allah selalu menyertai kita. Kita berjalan bersama Yesus yang turun ke dalam Sungai Yordan, dan bersama Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita. Semoga kita semua menjadi pembawa kabar sukacita Kerajaan-Nya yang penuh damai, keadilan, dan kasih. Akhirnya, semoga Bapa surgawi berbicara pula tentang kita, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan.”