Kewibawaan Yesus

Selasa, 13 Januari 2026 – Hari Biasa Pekan I

22

Markus 1:21b-28

Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah darinya!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar darinya. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.” Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.

***

Yesus mulai berkarya di tengah-tengah masyarakat. Ia mengajar di sebuah rumah ibadat di Kapernaum. Orang-orang yang mendengarkan pengajaran-Nya merasa takjub karena Ia mengajar penuh wibawa, tidak seperti para ahli Taurat. Rasa takjub itu barangkali bukan hanya karena cara Yesus berbicara yang berbeda dari para ahli Taurat, melainkan juga karena kesadaran bahwa kebenaran yang diwartakan Yesus sungguh-sungguh berasal dari Allah.

Di tengah pengajaran tersebut, seorang yang kerasukan setan berteriak dan mengakui kewibawaan Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah. Yesus menghardik, sehingga roh jahat keluar dari orang itu. Ini mengingatkan kita bahwa kuasa Yesus tidak hanya menyentuh pikiran para pendengar-Nya, tetapi mampu juga membebaskan hidup mereka.

Mukjizat ini terjadi sesudah Yesus memanggil empat murid-Nya yang pertama. Baru saja memulai perjalanan bersama Yesus, mereka langsung menyaksikan kewibawaan guru yang mereka ikuti. Murid-murid ini diajak untuk mengimani bahwa Yesus adalah guru yang mengajar dengan kuasa ilahi, Mesias yang mampu membebaskan manusia dari kuasa kegelapan, dan Putra Allah yang hadir membawa kehidupan baru bagi umat manusia. Mereka tidak sekadar mengikuti seorang pemimpin moral, tetapi Dia yang membawa terang dan pembebasan dari Allah.

Para murid diajak untuk menyadari bahwa mengikuti Yesus berarti masuk ke dalam perjuangan melawan kejahatan dan ketidakadilan, menjadi saksi bahwa Allah sungguh hadir dan melakukan kehendak-Nya di tengah dunia. Dalam berkarya, para murid harus mengandalkan kuasa ilahi, bukan kekuatan sendiri.

Yesus mengusir pengaruh roh jahat karena belas kasihan-Nya kepada manusia. Ini mengingatkan kita bahwa Yesus tidak pernah berhenti mengasihi kita. Ia mengasihi kita seutuhnya, bahkan dalam seluruh kekurangan dan kelemahan kita. Sebagaimana yang dialami orang dalam bacaan Injil hari ini, Yesus juga dapat melakukan hal yang sama dalam hidup kita jika kita menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya. Hendaknya kita membiarkan sabda-Nya membebaskan kita dari rasa takut, dan menjadi tanda kehadiran yang menyembuhkan bagi yang terluka.

Akhirnya, tanggapan orang-orang Kapernaum yang mengakui tindakan kasih Yesus sebagai “suatu ajaran baru” mengingatkan kita bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, bahwa pengampunan lebih kuat daripada dendam, dan bahwa pengharapan lebih kuat daripada keputusasaan.