Percaya Sepenuhnya pada Penyelenggaraan Ilahi

Senin, 26 Januari 2026 – Peringatan Wajib Santo Timotius dan Titus

7

Lukas 10:1-9

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.”

***

Ketika hendak bepergian, apalagi dalam jangka waktu yang lama, kita sering kali disibukkan dengan pelbagai persiapan, termasuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa serta. Kita sering kali juga membawa bekal melebihi apa yang kita butuhkan, sehingga bekal yang kita bawa dari rumah itu nantinya terpaksa kita bawa pulang kembali.

Yesus hari ini dikisahkan menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka pergi berdua-dua untuk mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Ia mengumpamakan pengutusan ketujuh puluh murid itu bagaikan pengutusan “anak domba ke tengah-tengah serigala”. Menarik untuk direnungkan, jika demikian, mengapa para murid dilarang membawa pundi-pundi, bekal, atau kasut? Secara logika, ketika kita akan pergi ke tempat yang berbahaya, bukankah kita harus membekali diri dengan segala macam hal secara lengkap, termasuk persenjataan kalau perlu?

Saya teringat akan sebuah kisah tentang St. Fransiskus dari Assisi. Pada waktu Perang Salib, Fransiskus pergi ke tengah-tengah pasukan musuh tanpa membawa persenjataan apa pun, tanpa pengawalan para prajurit, tanpa kuda, dan tanpa ilmu bela diri. Ia datang menemui panglima musuh, Sultan Malik al-Kamil, hanya dengan mengajak salah seorang pengikutnya. Fransiskus sepenuhnya percaya bahwa kasih Allah akan melindunginya. Ketika berjumpa dengan sultan tersebut, kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Pace e bene,” yang berarti “damai dan segala yang baik” (bagimu). Justru karena kesederhanaan dan ketulusannya, Fransiskus diterima dengan baik oleh Sultan Malik. Akhirnya, terjadilah percakapan dan terjalinlah persahabatan yang baik di antara mereka.

Benarlah kata Tuhan kita Yesus Kristus bahwa “seorang pekerja patut mendapat upahnya”. Upah di sini tidak selalu harus kita artikan sebagai barang, uang, makanan, atau minuman. Berkat melimpah, persahabatan, sukacita, dan damai sejahtera pun juga merupakan upah yang didapatkan oleh seorang pekerja. Karena itu, menjadi murid Kristus, kita dituntut untuk berani percaya sepenuhnya pada penyelenggaraan ilahi.