Menjadi Ibu dan Saudara Yesus

Selasa, 27 Januari 2026 – Hari Biasa Pekan III

6

Markus 3:31-35

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

***

Di dalam sebuah pidato atau sambutan, sang pembicara sering berkata, “Saudara-saudari yang terkasih…” Dalam bahasa Indonesia, kata “saudara” maknanya sangat beragam. Saat berjumpa dengan orang yang tidak dikenal, sebagai bentuk penghormatan, kita bisa memanggilnya “saudara”. Orang yang lahir dari satu bapak dan satu ibu disebut “saudara kandung”. Orang yang lahir dari satu ibu namun beda bapak disebut “saudara tiri”. Orang yang diangkat anak oleh orang tua kandung kita disebut “saudara angkat”.

St. Fransiskus dari Assisi bahkan menyebut semua makhluk sebagai saudara. Ia menyebut matahari sebagai Saudara Matahari, bulan sebagai Saudari Bulan, dan api sebagai Saudara Api. Keledai pun dipanggil oleh Fransiskus sebagai Saudara Keledai. Singkatnya, St. Franskus memanggil semua ciptaan Tuhan, termasuk benda mati, sebagai saudara. Bagi Fransiskus, sama seperti kita menyebut saudara karena dilahirkan dari ibu yang sama, seluruh alam semesta pun adalah saudara karena diciptakan oleh Allah yang sama.

Pada waktu Yesus sedang mengajar orang banyak, datanglah ibu dan saudara-saudara-Nya. Karena orang banyak yang mengelilingi Yesus, ibu dan saudara-saudara-Nya kesulitan untuk menemui Dia, maka mereka menyuruh orang untuk memanggil Yesus. Menanggapi seruan, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau,” Yesus menjawab, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Kemudaian Ia berkata, “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Di sini, Yesus mengangkat level persaudaraan jauh lebih tinggi, yaitu mereka yang melakukan kehendak Allah.

Kita sering mendengar istilah “saudara seiman”. Yang dimaksud sebagai saudara seiman adalah orang yang memiliki iman yang sama, misalnya orang-orang yang sama-sama berimankan akan Yesus Kristus dan mengakui Dia sebagai sang Juru Selamat. Yesus kini mengangkat persaudaraan ke tingkat yang lebih tinggi. Saudara itu tidak terbatas pada satu ibu atau satu bapak, tidak terbatas pula pada ikatan perkawinan mana pun. Kita menjadi saudara dan ibu Yesus jika kita mau melakukan kehendak Allah dalam hidup kita.