Terus Bertumbuh dan Berkembang

Jumat, 30 Januari 2026 – Hari Biasa Pekan III

5

Markus 4:26-34

Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Kata-Nya lagi: “Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

***

Pada suatu kesempatan, dalam sebuah pertemuan persaudaraan, ada seorang imam Fransiskan yang datang dan menemui saya. Imam muda tersebut berasal dari Timor Leste. Dahulu, waktu saya bertugas di Timor Leste tahun 2003, beliau ternyata menjadi murid saya di SMP yang dikelola oleh paroki. Tak terbayangkan, orang yang dahulu menjadi anak murid saya kini menjadi rekan imam dalam tarekat yang sama!

Yesus hari ini berbicara tentang Kerajaan Allah yang tumbuh dan berkembang secara perlahan, lambat, tanpa disadari, namun pasti. Berawal dari benih yang ditanam di tanah, benih itu kemudian mengeluarkan tunas. Tunas itu tumbuh semakin tinggi, lalu muncullah tangkai-tangkai dan bulir-bulir yang berisi. Bulir-bulir itu terus berkembang dan akhirnya menjadi buah yang masak dan siap untuk dipanen. Seluruh proses dari benih hingga menjadi buah yang siap dipanen ini berlangsung tanpa disadari manusia.

Demikian juga dengan diri kita. Sebagai pengikut Kristus, kita diharapkan dapat menanamkan benih-benih kebaikan dalam hidup kita. Meski di mata manusia tampaknya sia-sia dan tidak ada harapan sama sekali, di mata Tuhan hal sekecil apa pun memiliki makna. Kita diajak untuk tetap setia dalam menjalankan tugas pengutusan kita, entah sebagai imam, bruder, suster, maupun sebagai awam. Kita semua diajak untuk terus bertumbuh dan berkembang dalam menanamkan benih-benih kebaikan.

Kalau kita karyawan, jadilah karyawan yang baik. Kalau kita pedagang, jadilah pedagang yang baik. Kalau kita polisi, jadilah polisi yang baik. Kalau kita guru, jadilah guru yang baik. Singkatnya, apa pun profesi dan status kita, kita diajak untuk melaksanakannya dengan baik dan penuh tanggung jawab, sehingga dapat menghasilkan buah yang berguna.