Hati yang Berbahagia, Hati yang Dipenuhi Yesus

Minggu, 1 Februari 2025 – Hari Minggu Biasa IV

6

Matius 5:1-12a

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.”

***

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, belakangan ini saya memiliki kebiasaan baru dalam membuka sebuah pertemuan: Saya menanyakan apakah audiens yang saya hadapi bahagia hari itu. Saya amati wajah mereka, dan saya menemukan ada banyak wajah yang tiba-tiba berubah: Mereka tersenyum dengan mata yang bersinar.

Hari ini, Yesus bukan hanya bertanya apakah orang banyak dan para murid yang mendengar-Nya bahagia atau tidak. Ia dengan lugas menyatakan, “Berbahagialah.” Perkataan ini saya hayati sebagai sebuah pernyataan, sekaligus perintah untuk berbahagia, sebab Yesus melihat orang banyak yang datang kepada-Nya memiliki berbagai harapan dan beban hidup.

Yesus naik ke atas bukit, lalu duduk dan mengajar. Sikap Yesus ini menunjukkan bahwa Ia mampu merasakan dan memahami apa yang dialami oleh orang-orang yang datang kepada-Nya. Karena itu, dari mulut-Nya keluar kata-kata yang sederhana, kata-kata yang menyentuh hati, dan kata-kata yang menuntun manusia pada kebahagiaan sejati. Sabda bahagia yang dikatakan Yesus bukan janji kosong. Sabda ini adalah jalan hidup.

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.” Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang menyadari bahwa hidupnya bergantung pada Allah. Ia tidak mengandalkan kekuatan sendiri. Ia berdoa dengan hati yang terbuka dan percaya. Dengan sikap ini, hati menjadi ringan dan damai, sebab Tuhan sendiri yang menjadi sandaran hidup.

Yesus juga berkata, “Berbahagialah orang yang berdukacita.” Banyak orang mengalami kesedihan, kehilangan, dan luka batin. Yesus tidak menjauh dari air mata manusia. Ia hadir dan menghibur. Dukacita yang dibawa kepada Tuhan akan diubah menjadi pengharapan. Hati yang mau menangis di hadapan Tuhan adalah hati yang sedang disembuhkan.

Sabda bahagia berikutnya mengajak kita hidup dengan lemah lembut, rindu akan kebenaran, dan murah hati. Kelemahlembutan menolong kita untuk tidak mudah marah. Kerinduan akan kebenaran menuntun kita untuk hidup jujur. Kemurahan hati membuat kita peka terhadap kebutuhan sesama.

Yesus menyebut berbahagia pula orang yang suci hatinya dan yang membawa damai. Hati yang suci adalah hati yang tulus, tidak menyimpan niat jahat. Pembawa damai adalah orang yang menghadirkan ketenangan dalam keluarga, lingkungan, dan Gereja. Dari hati yang bersih, lahir kata-kata yang meneguhkan dan tindakan yang menguatkan.

Yesus tidak menyembunyikan kenyataan bahwa mengikuti-Nya bisa membawa penolakan dan penderitaan. Bagaimanapun Ia mengajak murid-murid-Nya untuk tetap bersukacita. Kebahagiaan sejati tidak bergantung pada pujian manusia. Kebahagiaan lahir dari kesetiaan kepada Tuhan, yakni hati yang percaya, setia, serta mau tinggal dan berjalan bersama Yesus setiap hari.