Hati yang Damai

Kamis, 5 Februari 2025 – Peringatan Wajib Santa Agata

4

Markus 6:7-13

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

***

Saudara-saudari yang terkasih, dalam perjalanan hidup dan pengutusan, kedamaian hati tidak datang dengan sendirinya. Damai merupakan buah dari iman, kepercayaan, dan kesetiaan kepada Allah. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita merenungkan bagaimana hati yang damai dibentuk dalam pengalaman konkret.

Dalam bacaan pertama (1Raj. 2:1-4,10-12), Daud menjelang akhir hidupnya memberikan pesan yang sangat mendalam kepada Salomo bahwa ia tidak mewariskan harta atau strategi politik, tetapi iman dan kesetiaan: “Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki. Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu…” Kekuatan yang dimaksud Daud bukanlah kekerasan atau kuasa duniawi, melainkan keteguhan hati yang bersandar pada Allah. Dari hati yang setia itulah akan lahir kerajaan yang kokoh dan damai. Salomo dapat duduk dengan mantap di atas takhta bukan karena kelicikannya, melainkan karena ia berjalan dalam kehendak Tuhan.

Hati yang damai berakar pada kepercayaan: Percaya kepada Allah yang setia pada janji-Nya, percaya bahwa jalan-Nya selalu membawa kehidupan. Kepercayaan inilah yang Yesus tanamkan kepada para murid ketika Ia mengutus mereka berdua-dua. Para murid diutus tanpa bekal berlebihan, tanpa jaminan kenyamanan. Mereka diminta percaya bahwa orang-orang yang mereka jumpai pada dasarnya adalah orang-orang baik, yang siap menerima kehadiran dan pewartaan mereka.

Jika ditolak, mereka diminta tidak marah atau menyimpan dendam. Pergilah saja dengan hati yang tetap merdeka dan damai. Inilah spiritualitas pengutusan: Datang dengan hati yang damai dan penuh kepercayaan, bukan dengan kecurigaan atau ketakutan. Hati para utusan adalah hati yang tenang karena bersandar pada Allah, hati yang percaya lebih dahulu sebelum menilai, hati yang tetap damai meski tidak selalu diterima. Dari hati seperti inilah lahir kesaksian yang menyembuhkan, menguatkan, dan memberi harapan.

Sabda Tuhan hari ini semakin diteguhkan melalui kesaksian hidup Santa Agata yang dalam penderitaan dan penganiayaan yang berat, tidak membiarkan kebencian atau ketakutan menguasai hatinya. Santa Agata tetap setia kepada Kristus dengan hati yang teguh dan damai. Dari hatinya yang hancur secara fisik justru terpancar kekuatan rohani yang mengalahkan kekerasan. Ia percaya bahwa Allah tetap baik, bahkan ketika manusia bertindak jahat. Damai dalam hatinya menjadi kesaksian yang berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri: Dalam pengutusan sehari-hari di komunitas, keluarga, tempat kerja, dan tempat pelayanan, apakah kita datang dengan hati yang damai? Apakah kita sungguh percaya bahwa orang-orang yang kita jumpai adalah saudara, orang-orang baik, yang juga sedang berjuang dalam hidup mereka?