Pertobatan Hati

Jumat, 27 Februari 2026 – Hari Biasa Pekan I Prapaskah

9

Matius 5:20-26

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.”

***

Pada Masa Prapaskah ini, kita kembali diajak oleh Injil Matius untuk melihat esensi terdalam dari iman kita. Esensi itu adalah pertobatan hati yang tidak hanya berupa ritual ataupun aturan yang wajib kita jalankan. Iman bukanlah sekadar menghafal isi Kitab Suci seperti burung beo yang mengikuti tuannya berbicara. Iman tampil autentik dalam cara kita bertindak dan bersikap kepada saudara-saudari kita.

Hari ini, Tuhan mau mengajak kita untuk melihat lebih jauh bagaimana kita beriman. Kita beriman hendaknya dengan mengikuti cara Yesus bertindak. Ini seperti doa dari Pedro Arrupe SJ: “Ajarilah aku, Tuhan, bagaimana Engkau mendengarkan, agar aku peka terhadap jeritan dan harapan sesama. Ajarilah aku bagaimana Engkau berbicara, agar kata-kataku membawa penghiburan dan kebenaran. Ajarilah aku bagaimana Engkau mengasihi, agar hatiku tidak sempit dan tertutup. Ajarilah aku bagaimana Engkau melayani, agar hidupku menjadi persembahan bagi-Mu dan bagi sesama. Bentuklah hatiku seturut hati-Mu, supaya dalam segala hal aku semakin menyerupai Engkau. Amin.”

Doa adalah wujud pertobatan hati, di mana kita mau melihat inti iman Katolik kita, yakni Yesus. Kita mau berbuat seperti yang dibuat Yesus yang mendengar, berkata, mengasihi, dan melayani. Karena itu, syarat pertobatan pada Masa Prapaskah adalah pertobatan hati, supaya kita memiliki disposisi yang tepat untuk berbuah. Kita tidak hanya menjalani Masa Prapaskah ini hanya demi aturan, tetapi karena hati kita sungguh tergerak untuk berubah dan berbuah.

Pertanyaan untuk direfleksikan: Pertobatan hati macam apa yang mau kita lakukan pada Masa Prapaskah ini? Hal konkret apa yang mau kita lakukan sebagai wujud pertobatan?