
Matius 5:17-19
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.”
***
Saudara-saudari yang terkasih, bagian penutup Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik menarik untuk kita baca. Di sana tertulis: “Salus animarum suprema lex – keselamatan jiwa-jiwa adalah hukum tertinggi.” Kata-kata ini mengingatkan kita kembali pada perkataan Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Yesus datang untuk mengembalikan hukum kepada tujuan aslinya, yakni keselamatan jiwa-jiwa.
Hukum dan aturan adalah benang merah dari kedua bacaan hari ini. Dalam Kitab Ulangan (Ul. 4:1,5-9), Musa berkata kepada bangsa Israel, “Dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup.” Hukum Allah diberikan bukan untuk membebani, bukan untuk mempersulit hidup, melainkan supaya umat hidup dan selamat. Senada dengan itu, dalam bacaan Injil, Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Yesus tidak menghapus hukum, tetapi menyempurnakannya. Ia menunjukkan tujuan terdalam dari hukum, yakni keselamatan jiwa-jiwa.
Bagaimana dengan kita? Aturan dan hukum menjadi bagian dalam kehidupan bersama kita. Baik di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di rumah ibadah, bahkan di jalan pun, hidup kita penuh dengan aturan. Tidak jarang, kita yang hidup pada zaman ini masih memiliki mentalitas yang sama dengan orang-orang yang dihadapi Yesus. Tidak sedikit orang, mungkin termasuk kita juga, yang masih memahami hukum secara kaku dan formal. Hukum dipatuhi secara lahiriah, tetapi hati malah justru menjauh dari Allah.
Yesus datang untuk mengembalikan hukum kepada tujuan aslinya, yakni keselamatan jiwa-jiwa. Hukum tidak dibuat untuk menghukum manusia, tetapi untuk menyelamatkan manusia. Hukum tanpa kasih akan menjadi beban, namun kasih tanpa kebenaran akan menjadi kabur. Yesus mempersatukan keduanya. Hukum mencapai kepenuhannya ketika membawa orang semakin dekat dengan Allah dan semakin mencintai sesama.
Saudara-saudari yang terkasih, terkadang kita mudah jatuh ke dalam bahaya legalisme. Kita bersikap seperti ahli Taurat yang tanpa belas kasihan cepat menilai, menghakimi, dan menunjuk kesalahan orang lain. Kita lupa bahwa hukum Allah semestinya pertama-tama mengubah diri kita sendiri. Yesus menggenapi hukum dengan mengampuni orang berdosa, menyentuh orang kusta, membela perempuan yang hendak dirajam, dan makan bersama para pemungut cukai. Bagi Yesus, jiwa manusia lebih berharga daripada sekadar kepatuhan formal.
Menjadi bahan permenungan kita hari ini: Apakah kita menjalankan aturan untuk membangun atau justru untuk menekan? Apakah kita memakai hukum untuk menyelamatkan atau untuk menghakimi? Semoga hari ini kita mampu bersikpa taat, bukan karena takut dihukum, melainkan karena kasih kita kepada Allah dan kepada sesama.










