Gereja sebagai Ruang Belas Kasihan

Senin, 23 Maret 2026 – Hari Biasa Pekan V Prapaskah

6

Yohanes 8:1-11

Tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.

Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zina. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

***

Yesus tidak ikut arus massa yang ingin mencari kambing hitam. Ia tidak berteriak dan tidak membenarkan kekerasan. Ia justru menghentikan lingkaran yang saling menyalahkan. Sikap ini menjadi cermin tajam bagi dunia kita sekarang. Kita hidup di tengah budaya “tanpa penyesalan”. Korupsi dibungkus dengan dalih prosedur. Kelalaian dipoles dengan istilah “kesalahan sistem”. Peperangan dibenarkan atas nama keamanan, ideologi, atau harga diri bangsa.

Di panggung politik dan kekuasaan global, mengakui kesalahan dianggap kelemahan, padahal dalam terang Injil, justru di sanalah kekuatan moral dimulai. Para pemimpin dunia berlomba cuci tangan, menimpakan kesalahan pada pihak lain, dan mencari pembenaran untuk kekerasan yang terus memakan korban orang-orang yang tidak bersalah. Yesus menunjukkan jalan lain. Ia tidak menyangkal bahwa dosa itu nyata. Namun, Ia menolak logika dunia yang menyelesaikan dosa dengan mengorbankan manusia. 

Di hadapan Yesus, bukan perempuan itu yang paling bermasalah, melainkan kerumunan yang kehilangan belas kasihan. Dunia hari ini pun berisiko menjadi kerumunan besar karena cepat marah, mudah menghakimi, tetapi lambat bertobat. Di sinilah Gereja dipanggil menjadi ruang alternatif, bukan ruang pembenaran dosa, melainkan ruang pertobatan. Gereja harus berani menghidupi keberanian Injil, yakni keberanian untuk berkata, “Kami salah,” keberanian untuk meminta maaf, dan keberanian untuk menghentikan siklus saling menyalahkan dan siklus kekerasan.

Ketika dunia menganggap permohonan maaf sebagai tanda kekalahan, Injil justru mewartakan bahwa pertobatan adalah kemenangan atas keangkuhan. Ketika dunia membenarkan perang demi kehormatan, Kristus berdiri di tengah puing-puing martabat manusia dan berkata, “Aku tidak menghukum engkau.”

Pertanyaan refleksi bagi kita: Apakah kita ikut membenarkan kekerasan, kebencian, atau perang demi rasa aman dan kepentingan kita sendiri? Apakah Gereja, dan kita di dalamnya, masih menjadi suara kenabian di tengah-tengah dunia yang kehilangan rasa malu?