
Bilangan 21:4-9
Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.” Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.
***
Kisah umat Israel di padang gurun sangat dekat dengan dunia kita sekarang. Mereka lelah, kecewa, dan suka bersungut-sungut. Hati yang dipenuhi keluhan itu akhirnya membawa maut: Ular-ular berbisa menyerang mereka. Yang menarik, Allah tidak langsung menyingkirkan ular-ular itu. Ia justru memerintahkan Musa untuk meninggikan patung ular tembaga, dan siapa pun yang memandang patung itu akan hidup.
Cara Allah menyelamatkan ini terasa aneh. Mengapa Ia tidak langsung saja memusnahkan ular-ular itu? Karena Allah ingin menyembuhkan terlebih dahulu hati manusia, bukan sekadar situasinya. Umat Allah diminta untuk memandang, bukan melarikan diri. Memandang berarti berani menghadapi kenyataan sambil percaya pada janji Allah.
Hari ini, dunia kita juga penuh “ular”, yakni peperangan yang merenggut nyawa orang tak bersalah, kebencian yang disebarkan lewat kata dan media, serta korupsi dan ketidakadilan yang meracuni kehidupan bersama. Reaksi kita sering kali adalah marah, putus asa, atau menjadi sinis. Namun, firman Tuhan hari ini mengajak kita bertanya: Ke mana kita memandang?
Jika kita hanya memandang kekerasan, hati kita akan ikut menjadi keras. Jika kita hanya memandang ketidakadilan, kita mudah kehilangan harapan. Namun, ketika kita memandang Kristus yang ditinggikan di salib, cara pandang kita diubah. Salib menunjukkan Allah yang tidak lari dari penderitaan manusia, tetapi masuk ke dalamnya. Kristus hadir di tengah dunia yang terluka, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyembuhkan.
Memandang Kristus tidak membuat kita menutup mata terhadap kejahatan. Justru sebaliknya, iman memberi kita kekuatan untuk tidak diracuni oleh kebencian. Iman menolong kita tetap jujur di tengah korupsi, tetap berbelaskasihan di tengah kekerasan, dan tetap berharap di tengah situasi yang tampak gelap.
Saudara-saudari, mungkin “ular-ular” itu masih ada. Dunia belum langsung berubah. Namun, siapa yang memandang Kristus tidak akan mati oleh racun “ular-ular” itu. Semoga perayaan Ekaristi yang kita ikuti meneguhkan kita untuk terus memandang Dia, agar kita disembuhkan, dan lewat hidup kita, dunia pun perlahan disembuhkan. Amin.










