
Yohanes 11:45-56
Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.
Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.
Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?”
***
Renungan dari bacaan-bacaan hari ini menghadirkan sebuah ketegangan yang sangat nyata dalam kehidupan iman kita, yakni antara kehendak Allah dan respons manusia. Dalam bacaan pertama (Yeh. 37:21-28), Allah menyatakan kehendak-Nya yang indah: Umat yang tercerai-berai akan disatukan kembali, hidup dalam damai, dan berjalan bersama di bawah satu gembala. Kehendak ini lahir bukan dari situasi ideal, melainkan dari kehancuran bangsa yang terpecah dan kehilangan harapan. Justru di tengah kerapuhan itulah Allah berbicara tentang masa depan yang utuh, penuh pemulihan dan persatuan.
Namun, ketika kita masuk ke dalam kisah yang disajikan Injil Yohanes, kita melihat kenyataan yang berbeda. Setelah Lazarus dibangkitkan, banyak orang mulai percaya kepada Yesus Kristus. Akan tetapi pada saat yang sama, para pemimpin justru diliputi ketakutan. Mereka khawatir kehilangan kuasa dan kestabilan. Kayafas bahkan mengusulkan bahwa lebih baik satu orang mati demi bangsa. Sejak itu, rencana untuk membunuh Yesus mulai disusun.
Di sinilah kita melihat kontras yang tajam: Allah menghendaki persatuan, tetapi manusia memilih perpecahan. Allah menghadirkan Sang Gembala, tetapi manusia menolak-Nya. Apakah ini berarti Allah gagal? Tidak. Justru di sinilah misteri iman tersingkap. Tanpa disadari, perkataan Kayafas merupakan nubuat bahwa Yesus akan mati bukan hanya untuk satu bangsa, melainkan untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Apa yang lahir dari ketakutan manusia, oleh Allah diubah menjadi jalan keselamatan. Salib yang tampak sebagai kegagalan justru menjadi jalan pemersatu umat manusia.
Ini menegaskan bahwa kehendak Allah bukanlah kepastian otomatis, melainkan arah yang terus ditawarkan. Allah tidak memaksa, sebab Ia menghargai kebebasan manusia. Karena itu, dunia yang penuh konflik bukan tanda bahwa Allah gagal, melainkan tanda bahwa manusia sering memilih menjauh dari kehendak-Nya. Namun, bahkan di tengah penolakan itu, Allah tidak berhenti bekerja.
Bagi kita sekarang, renungan ini menjadi panggilan yang sangat konkret. Kita bukan sekadar penonton dalam rencana Allah, melainkan rekan kerja-Nya. Setiap pilihan kecil, seperti mengampuni, berlaku adil, menolak kebencian, atau membangun damai, adalah cara kita ikut ambil bagian dalam mewujudkan kehendak Allah. Mungkin dunia tidak langsung berubah, tetapi setiap tindakan kasih adalah benih persatuan yang nyata.
Akhirnya, harapan kita tidak bertumpu pada kepastian bahwa semuanya akan berjalan mulus, tetapi pada kesetiaan Allah yang tidak pernah berhenti mengundang. Di tengah dunia yang masih penuh ketegangan seperti dalam kisah Injil Yohanes, kita tetap berjalan membawa cita-cita yang digambarkan Yehezkiel, yaitu percaya bahwa melalui pilihan-pilihan kita hari ini, Allah terus bekerja memulihkan dan mempersatukan dunia, sedikit demi sedikit, bersama kita.










