
Ibrani 4:14-16; 5:7-9
Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
***
Dalam peringatan Jumat Agung, kita mengenangkan sengsara dan wafat Yesus. Peristiwa ini terjadi pada saat perayaan Paskah di Yerusalem, ketika kota dipenuhi peziarah dan berada dalam pengawasan ketat penguasa Romawi. Dalam situasi seperti itu, setiap gerakan yang dianggap dapat memicu kerusuhan atau pemberontakan diawasi dengan ketat. Pada saat itulah, Yesus ditangkap di Taman Getsemani setelah dikhianati oleh Yudas Iskariot. Ia kemudian dihadapkan kepada para pemimpin agama Yahudi, dan akhirnya dibawa kepada Pontius Pilatus. Menurut sistem hukum saat itu, hanya otoritas Romawi yang memiliki hak untuk menjatuhkan hukuman mati. Karena itu, keputusan penyaliban Yesus berada di tangan Pilatus.
Penyaliban merupakan bentuk hukuman mati yang sangat kejam. Dalam Kekaisaran Romawi, hukuman ini biasanya dijatuhkan kepada pemberontak, budak yang melawan tuannya, atau penjahat. Dengan demikian, kematian Yesus di salib menunjukkan bahwa Ia diperlakukan seperti seorang pemberontak di mata kekuasaan politik. Namun, penginjil Yohanes menggambarkan peristiwa ini dengan cara yang khas, bahwa di tengah penderitaan, Yesus tetap tampil sebagai pribadi yang berdaulat atas peristiwa yang terjadi. Di kayu salib, Ia berkata, “Sudah selesai,” yang menandakan bahwa karya keselamatan Allah telah mencapai kepenuhannya.
Kematian Yesus di kayu salib mengungkapkan beberapa makna penting. Pertama, salib adalah tanda kasih Allah. Yesus tidak menghindari salib dan penderitaan, tetapi menghadapinya sebagai tanda kasih dan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa. Kedua, salib adalah saat pemuliaan Yesus. Dalam pandangan dunia, salib adalah tanda kehinaan dan kegagalan. Namun, dalam iman Kristen, salib menjadi jalan menuju kemuliaan dan kemenangan kasih Allah atas dosa dan kematian. Ketiga, dari salib lahir komunitas baru. Ketika Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya, Ia membentuk relasi baru yang melampaui ikatan darah. Gereja lahir dari kasih yang terpancar dari salib Kristus.
Ibadat Jumat Agung mengajak kita untuk merenungkan arti salib dalam kehidupan kita. Pertama, salib mengingatkan kita bahwa kasih sejati menuntut pengorbanan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipanggil untuk mengasihi dengan rela berkorban demi kebaikan orang lain. Kedua, salib mengajarkan bahwa penderitaan tidak selalu berarti kekalahan. Dalam iman, penderitaan dapat menjadi jalan di mana Allah bekerja menghadirkan keselamatan dan harapan baru. Ketiga, Jumat Agung mengundang kita untuk melihat dunia dengan hati yang penuh belas kasihan. Di sekitar kita masih banyak orang yang menderita. Mengikuti Kristus berarti berani berjalan bersama mereka. Di kayu salib, Yesus menunjukkan kasih yang tidak menyerah sampai akhir. Hal ini menunjukkan bahwa di tengah kegelapan sekalipun, kasih Allah tetap bekerja membawa kehidupan baru bagi dunia.










