Berani Mengambil Langkah Pertama

Minggu, 5 April 2026 – Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan

18

Yohanes 20:1-9

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.

***

Pagi-pagi buta, saat para rasul masih terlelap tidur dalam ketakutan akut, Maria Magdalena telah keluar dari rumah menuju kubur Yesus. Injil menggunakan bahasa simbolik. Maria Magdalena pergi ke kubur Yesus saat pagi-pagi benar ketika hari masih gelap. Suasana ini menggambarkan situasi yang dialami oleh para murid. Mereka semua “masih gelap” akan peristiwa penyaliban Yesus. Mereka belum memahami apa pun.

Maria ingat bahwa gurunya dikuburkan dengan tergesa-gesa tanpa melalui proses pemakaman yang layak. Ia pun mengambil inisiatif untuk menerobos kegelapan dan dinginnya udara pagi. Apa yang dilakukan Maria Magdalena bisa jadi adalah gejala yang umum. Saat terjadi krisis, yang sering kali mengambil inisiatif untuk memecah kebuntuan adalah perempuan. Perempuan memiliki perhatian yang lebih mendalam. Karena cinta dan hormatnya kepada Yesus, Maria Magdalena mengalahkan semua ketakutan dalam dirinya. Pastilah ia mengingat apa yang dahulu dilakukan oleh gurunya. Yesus telah menolong dia meskipun berisiko dimusuhi oleh tua-tua bangsa Yahudi dan para ahli Taurat. Oleh sebab itu, hal yang sama juga akan ia lakukan.

Namun, kubur Yesus kosong. Maria Magdalena lantas menuju rumah tempat para rasul bersembunyi. Ia memberitahukan apa yang terjadi kepada Petrus dan Yohanes. Mendengar pewartaan Maria Magdalena, Petrus dan Yohanes bergegas pergi ke kubur. Yohanes sampai terlebih dahulu. Ia melihat ke dalam, tetapi tidak masuk ke kubur itu. Petrus yang menyusul lantas masuk ke dalam kubur. Ia melihat dengan sikap analitis: “Kain kafan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.” Semua fakta ini menegaskan bahwa jenazah Yesus tidak mungkin dicuri orang.

Yohanes lantas menyusul masuk. Dia melihat dan percaya. Demikianlah akhirnya proses perjalanan iman para rasul. Dari kegelapan yang pekat di pagi hari, mereka lantas melihat dan akhirnya sampai pada pemahaman iman. Maria Magdalena telah berani mengambil langkah pertama menjadi saksi kunci peristiwa kebangkitan Kristus.

Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: Beranikah kita mengambil langkah pertama untuk menjadi saksi Kristus?