
Kisah Para Rasul 4:23-31
Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka. Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: “Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu. Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.” Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.
***
Dunia kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Situasi internasional sedang kacau, di dalam negeri pun demikian. Peperangan dan konflik terjadi dalam berbagai bentuk. Ada bencana yang tak kunjung selesai, kekerasan dan manipulasi yang merajalela, hingga strategi politik berkedok kepentingan orang banyak, padahal menyengsarakan rakyat. Perang dan konflik tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Unggahan yang tendensius, konten negatif, komentar jahat, ujaran kebencian, hujatan, cacian, maupun fitnah ada di mana-mana.
Paus Leo XIV berkata, “Menurut ajaran Yesus, keadilan sebenarnya adalah kasih. Di dalam setiap perintah hukum Tuhan, kita harus mengenali panggilan kita untuk mengasihi, bukan hanya dengan tidak membunuh secara fisik, melainkan juga dengan kata-kata maupun tindakan kita terhadap orang lain.”
Pembunuhan tidak hanya soal darah dan nyawa yang hilang, tetapi juga karakter. Upaya untuk menghancurkan reputasi, kredibilitas, nama baik, harga diri, dan kepercayaan orang lain dapat digolongkan juga sebagai upaya pembunuhan. Ini sering kali tidak perlu perencanaan dan bisa terjadi dalam hitungan detik, yakni ketika jari secara impulsif menekan papan ketik dan menuliskan komentar berdasarkan apa yang terlintas saat itu di pikiran. Alih-alih respons, kita memberikan reaksi atau asumsi subjektif berdasarkan dangkalnya informasi maupun pengetahuan yang kita miliki.
Kedangkalan berpikir dan cepatnya manusia bereaksi otomatis akan membuat kemampuan abstraksi mendalam manusia menurun. Orang tidak lagi mampu berdiam sejenak untuk menemukan kebenaran di air yang sudah sangat keruh. Ujung-ujungnya yang dikejar bukan lagi keadilan, melainkan kebenaran menurut keyakinan sendiri atau kelompok tertentu.
Dalam bacaan pertama hari ini, kita diingatkan kembali untuk berani memberitakan firman Allah. Yesus dahulu datang ke dunia, rela menderita, dihina, dan disalibkan demi misi keselamatan untuk seluruh umat manusia. Ia tidak membalas dengan meneriakkan protes atau kecaman. Di tengah keriuhan hujatan kebencian dan penyebaran fitnah, Ia teguh berjalan mengikuti rencana Allah, tidak tenggelam dalam arus dunia. Bagi-Nya kasih adalah mutlak. Ia mengasihi kawan maupun lawan. Keadilan Allah tidak dipertanyakan-Nya.
Dalam situasi dunia yang terlihat porak-poranda ini, kita ditantang untuk memiliki semangat yang sama dengan Kristus: Teguh percaya pada keadilan Allah, dan tidak menjadikan apa pun juga, termasuk rasa marah dan frustrasi, sebagai alasan untuk berhenti mengasihi sesama, termasuk lawan-lawan kita. Ingat, Tuhan kita adalah penyelamat, bukan pembunuh. Panggilan kita adalah untuk mengasihi. Jika kita ikut terseret arus dunia yang fana ini dengan menyebarkan kebencian yang merusak dan menghancurkan, apakah kita masih berjalan mengikuti jejak Kristus?










