Menjadi Hamba untuk Semua

Rabu, 27 Mei 2026 – Hari Biasa Pekan VIII

198

Markus 10:32-45

Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, kata-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.”

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

***

Ketika para murid merasa cemas dan orang-orang yang mengikuti-Nya merasa takut, Yesus memanggil mereka, lalu mengatakan apa yang akan terjadi atas diri-Nya. Ia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Ia akan dihukum mati, tetapi setelah tiga hari, Ia akan bangkit.

Yakobus dan Yohanes mungkin tidak fokus dan tidak menyimak perkataan Yesus tentang penderitaan-Nya. Mereka malah meributkan tentang siapa yang akan duduk sebelah kanan dan sebelah kiri Yesus. Menanggapi itu, Yesus menegaskan bahwa murid-murid-Nya harus bisa dan mau menjadi pelayan atau hamba bagi banyak orang, seperti Dia yang datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.

Dalam menghadapi kehidupan ini, kita mungkin juga lebih terfokus pada kekhawatiran, kesulitan, atau permasalahan yang akan terjadi. Hal itu membuat kita berusaha keras untuk  menghindari hal-hal yang akan mengarahkan kita ke sana. Kemudian, lahirlah ketidakpedulian, hilangnya empati, dan hilangnya hati nurani untuk memberi ataupun mengampuni. Alih-alih mau mengikuti Yesus dan melayani sesama, kita malah menjauh dari-Nya dan kurang bersyukur atas kebaikan-Nya.

Penderitaan yang ditanggung Yesus semestinya menyadarkan kita bahwa hal itu jauh lebih berat daripada yang kita alami. Bersama Yesus, mari kita menghadapinya dengan berani dan tabah. Setiap penderitaan mengandung pelajaran dan rahmat kehidupan, agar kita bisa menjadi pelayan atau hamba-Nya yang lebih baik. Dengan itu, kita diajar untuk merendahkan diri dan mau melayani sesama dengan lebih baik lagi. Fokuslah kepada rahmat yang diberikan Tuhan, syukuri kasih karunia-Nya; semoga dengan itu kita kuat menghadapi hal-hal duniawi yang tidak ada habis-habisnya.