
Matius 6:19-23
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.”
***
Banyak orang meyakini bahwa uang memainkan peran penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Tidak dapat disangkal, uang menjadi jaminan bagi kita untuk bisa memiliki berbagai hal yang kita inginkan. Akan tetapi, kita perlu menyadari juga bahwa uang bukanlah segala-galanya. Ada begitu banyak hal dalam hidup kita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Arne Garborg, seorang penulis Norwegia, berujar: “Dengan uang, kamu bisa membeli makanan, tetapi bukan selera makan; obat-obatan, tetapi bukan kesehatan; tempat tidur yang empuk, tetapi bukan tidur itu sendiri; pengetahuan, tetapi bukan kecerdasan; kemewahan, tetapi bukan kenyamanan; kesenangan, tetapi bukan kenikmatan; kenalan, tetapi bukan persahabatan; pelayan, tetapi bukan kesetiaan; rambut putih, tetapi bukan kehormatan; hari-hari yang tenang, tetapi bukan kedamaian. Yang bisa kamu dapatkan dengan uang hanyalah bagian luar dari segala sesuatu, bukan intinya. Itu tidak bisa dibeli dengan uang.”
Yesus mengajarkan kita untuk membedakan antara harta duniawi dan harta surgawi. Harta duniawi dapat berupa materi, pendapat orang lain tentang diri kita, prestasi, keamanan, kebanggaan, dan lain sebagainya. Harta ini bersifat rapuh dan tidak abadi, bisa saja habis, hilang, atau dicuri orang. Berbeda dengan itu, harta surgawi berupa kebaikan, kasih, kesetiaan, persaudaraan, pengampunan, dan pelayanan tidak akan mampu dirusakkan oleh waktu. Harta surgawi adalah hal-hal yang kita hargai di dalam hati kita, yang menumbuhkan dan mengembangkan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.
Jika kita menginginkan kehidupan yang berkualitas, kita membutuhkan harta surgawi tersebut di atas. Kiranya, kita bahkan tidak dapat hidup tanpanya. Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha untuk memiliki harta duniawi. Perlu kita ingat bahwa melalui nasihat ini, Yesus tidak sedang melarang kita untuk bekerja, menabung, atau merencanakan masa depan secara matang. Namun, marilah kita menggunakan seluruh harta duniawi kita sebagai titik awal untuk membangun relasi yang baik dengan Tuhan dan sesama di sekitar kita. Sebab, tanpa harta surgawi, semua harta duniawi yang kita miliki itu kosong belaka tanpa makna.
Yesus juga berkata, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Dengan ini, Ia mengundang kita untuk berusaha memaknai hidup kita dengan perspektif yang lebih baik. Gunakanlah waktu kita setiap hari dengan bijaksana, dan jadikanlah harta yang kita miliki bukan sebagai tujuan satu-satunya, melainkan sebagai sarana agar menjadi berkat dan untuk menghadirkan berkat bagi sesama.
Semoga kita berani memilih harta yang kekal, menjaga mata agar tetap jernih, dan menaruh hati pada hal-hal yang membawa kita semakin dekat kepada-Nya dan kepada sesama di sekitar. Kepedulian terhadap sesama membantu kita melepaskan diri dari keegoisan, bertumbuh dalam kemurahan hati, dan pada akhirnya menemukan kebahagiaan sejati.










