Tuhan Bertindak: Mematahkan Kecemasan

Kamis, 24 September 2026 – Hari Biasa Pekan XXV

3

Lukas 9:7-9

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.

***

“Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati.”

Apa yang membuat kita takut? Mungkin di antara kita ada yang takut gagal. Ada juga yang takut kehilangan. Ada yang takut ketinggalan atau dalam istilah sekarang FOMO. Ada juga yang takut kesepian. Kita semua memiliki ketakutan kita masing-masing.

Kisah yang kita dengarkan hari ini sebenarnya menunjukkan bagaimana kecemasan dan ketakutan menjadi cara roh jahat mengerdilkan hidup kita. Herodes itulah contohnya. Hidup yang berkembang justru tidak dimulai dari kecemasan dan ketakutan. Hidup yang berkembang dimulai dari keberanian dan harapan.

Kecemasan dan ketakutan sebenarnya adalah emosi yang sangat manusiawi. Manusia merasa takut agar bisa bertahan hidup. Kalau tidak ada rasa takut, mungkin manusia sudah punah karena tidak menyadari bahaya di sekitarnya, misalnya yang ditimbulkan oleh keberadaan ular berbisa atau binatang buas. Akan tetapi di sisi lain, ada banyak bentuk ketakutan yang sebenarnya membuat kita tidak berkembang dan tidak membantu kita menjadi pribadi yang utuh.

Orang tua adalah figur yang amat memperhatikan anak-anaknya. Orang tua berusaha mendidik anak-anak mereka agar berhasil. Namun, ada kalanya orang tua merasa cemas dan takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada anak-anak mereka. Orang tua kemudian begitu melindungi anak-anak mereka agar si anak tidak perlu mengalami rasa sakit yang sebenarnya malah diperlukan agar dapat berkembang. Contoh kecil ini menunjukkan bagaimana ketakutan melumpuhkan dan mengerdilkan hidup kita.

Kita perlu peka mencermati bagaimana roh jahat menghadirkan ketakutan untuk mengerdilkan dan menghambat perkembangan diri kita dan sesama. Kita mohon rahmat Tuhan agar kecemasan dan ketakutan tidak menjadi pengendali dalam hidup kita.