
Matius 21:28-32
“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”
***
God is good all the time. Allah selalu baik. Inilah kalimat yang sudah sering kita dengar terujar dari bibir orang lain atau lewat media sosial. Namun, terkadang kita juga mendengar ungkapan hati orang yang putus asa karena mengalami pengalaman negatif yang berat: Tuhan, di manakah Engkau saat saya menderita? Dalam konten-konten di media sosial, beberapa akun Katolik berusaha menjelaskan pertanyaan-pertanyaan manusiawi tentang bagaimana Allah bekerja, khususnya di saat-saat penderitaan. Tuhan bekerja dengan cara yang sering tidak kita pahami, tetapi satu hal yang pasti: Dia tidak pernah berhenti mengasihi umat-Nya.
Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini menjelaskan tentang kemurahan hati Allah terhadap umat-Nya. Yehezkiel dalam bacaan pertama (Yeh. 18:25-28) mengatakan jika orang fasik atau orang jahat bertobat dari kejahatannya, Tuhan akan mengampuninya. Pertobatan itu nyata lewat tindakan perubahan yang kelihatan, yaitu dari kefasikan berubah menjadi orang yang melakukan keadilan dan kebenaran.
Sementara itu, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang dua orang anak yang diminta pergi ke ladang. Yang satu mengiyakan tetapi tidak pergi, sedangkan yang lain menolak tetapi akhirnya sadar, berubah, dan pergi melaksanakan permintaan orang tuanya. Yesus mengumpamakan anak yang menolak tetapi kemudian pergi seperti para pemungut cukai dan orang berdosa yang bertobat karena perjumpaan dengan-Nya.
Allah yang Maha Pengasih tidak menghukum orang yang berdosa, tetapi Dia menanti, mengunjungi, dan menuntun mereka dengan sabar agar bertobat dan kembali kepada-Nya. Para pemungut cukai dan orang berdosa dijumpai oleh Yesus dengan kasih yang mengubah mereka dari keadaan berdosa menuju pengalaman kasih yang menyelamatkan. Yesus tidak membiarkan mereka tinggal dalam keadaan berdosa, yaitu pengalaman kehilangan perasaan dikasihi oleh Allah. Pengalaman akan kemurahan hati Allah itu mengubah dosa menjadi pengalaman kasih yang memampukan mereka mewartakan kasih Allah itu kepada dunia. Dalam bahasa Paulus (bdk. bacaan kedua hari ini, Flp. 2:1-11), mereka bersikap seperti Kristus, memiliki kasih dan belas kasihan, tidak lagi memikirkan diri sendiri.
Setiap hari dalam hidup kita adalah waktu Tuhan mencurahkan kemurahan hati-Nya. Dia tetap memberikan berkat bagi orang baik dan bagi orang berdosa. Saat kita mulai menjauh dari-Nya karena dosa, Allah tetap melindungi dan menunjukkan arah pulang melalui Roh Kudus dan melalui orang-orang di sekitar kita. Sadari dan syukurilah kebaikan Allah dalam hidup kita, agar kita dituntun untuk berperilaku seperti Kristus, penuh kasih dan belas kasihan, serta meninggalkan kefasikan, kesombongan, iri hati, dengki, dendam, dan amarah. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapa-Mu adalah murah hati” (Luk. 6:36).










