
Lukas 9:46-50
Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”
Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
***
Akun-akun media sosial yang bernuansa psikologi sering membahas tentang salah satu gangguan kepribadian yang popular, yaitu gangguan kepribadian narsisistik atau NPD. Orang dengan gangguan kepribadian ini cenderung menjadikan dirinya sebagai yang terpenting dan tak terkalahkan. Dengan kata lain, aura kesombongannya sangat kelihatan. Dalam taraf yang sangat parah, orang ini akan cenderung menjadi manipulatif atau memanfatkan orang lain untuk kepentingan dirinya. Dia tidak akan pernah merasa bersalah dan sering berperan seperti korban atau pihak yang terzalimi. Dalam pandangannya, orang lainlah yang selalu salah. Orang dengan ciri demikian susah menerima masukan dari orang lain.
Para murid hari ini dikisahkan sempat jatuh dalam kecenderungan untuk menjadi pribadi-pribadi narsisistik. Mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Mungkin sebagian merasa bahwa merekalah yang paling dekat, paling penting, paling kenal, atau paling dikasihi oleh Sang Guru.
Menanggapi hal itu, Yesus memanggil dan menempatkan seorang anak kecil untuk menjelaskan siapa yang terbesar dalam Kerajaan Allah. Yang terbesar justru adalah mereka yang membiarkan diri jadi kecil, tidak mau menonjolkan diri, terbuka menerima semua orang termasuk yang terkecil. Bagi Yesus, menjadi yang terbesar bukanlah persoalan status, tetapi sikap, yaitu sikap hati yang sederhana, rendah hati, hati yang terbuka menerima siapa saja, termasuk mereka yang terkecil seperti anak kecil itu.
Anak kecil adalah simbol orang yang kurang dianggap. Namun, dalam Kerajaan Allah, semua orang berharga dan penting. Mereka yang tidak punya kemampuan menerima orang lain apa adanya tidak punya tempat dalam Kerajaan Allah. Mereka yang merasa diri penting, berharga, terbesar, dan cenderung meremehkan orang lain juga tidak punya tempat dalam Kerajaan Allah. Yesus mengatakan: Yang terkecil di antara kamu, dialah yang terbesar!
Dunia memang cenderung mengajarkan kita untuk mengejar status atau kekuasaan dalam bentuk yang keliru. Orang menjadikannya sebagai sarana untuk menjadi sombong dan menguasai orang lain. Yesus tidak mengkritik kekuasaan atau status, tetapi dalam ajaran-Nya, Dia menekankan bahwa makin orang berkuasa, harusnya mereka makin rendah hati, makin melayani sesama, alih-alih memanipulasi atau memanfaatkan orang lain. Jadilah orang yang tetap rendah hati meski kita punya kesempatan untuk menjadi sombong. Sebab, yang terkecil di antara kita, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Allah.










