Bukalah Hati, Jangan Menuntut Tanda

Senin, 12 Oktober 2026 – Hari Biasa Pekan XXVIII

4

Lukas 11:29-32

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”

***

Seorang ibu pernah menceritakan pengalamannya menunggu anaknya pulang dari sekolah. Ia menunggu dalam kegelisahan. Biasanya, si anak selalu mengirim pesan kalau sudah selesai pembelajaran atau kalau ada perubahan jadwal, sehingga dia bisa memperkirakan jam berapa kira-kira anaknya akan tiba di rumah. Namun, hari itu tidak ada pesan sama sekali. Dia pun mulai gelisah. Dia menelepon dan mengirim pesan berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban. Dalam hatinya muncul berbagai dugaan: Jangan-jangan terjadi sesuatu, jangan-jangan ada hal yang tidak baik. Tidak lama kemudian, anak itu pulang. Ternyata dia baik-baik saja, hanya telepon genggamnya mati. Hal seperti itu sering terjadi dalam hidup kita. Kita mudah gelisah, curiga, bahkan kecewa ketika tidak mendapatkan tanda atau kepastian seperti yang kita harapkan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berhadapan dengan orang banyak yang menuntut tanda. Mereka seolah-olah berkata kepada Yesus, “Tunjukkan sesuatu yang luar biasa supaya kami percaya kepada-Mu.” Namun, Yesus justru menegur mereka, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.”

Kita sering menuntut tanda dari Tuhan. Ini sebenarnya menunjukkan bahwa iman kita masih lemah. Kita ingin percaya, tetapi hanya jika Tuhan bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kita ingin Tuhan memberi bukti sebelum kita menyerahkan diri kepada-Nya. Kita berkata, “Tuhan, kalau Engkau sungguh ada, berilah aku tanda,” atau, “Tuhan, kalau Engkau sungguh menyertaiku, bukakan jalan ini. Kalau Engkau sungguh mengasihiku, hilangkan masalah ini.” Tanpa kita sadari, tuntutan itu pelan-pelan menutup hati kita. Kita tidak memberi ruang bagi Tuhan untuk berkarya. Kita tidak lagi mau untuk bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki dariku?”, tetapi lebih sering bertanya, “Tuhan, apa yang bisa Engkau berikan kepadaku?”

Hati yang kurang beriman akan mudah menjadi keras. Kita mendengar sabda Tuhan, tetapi tidak mau mendengarkan. Kita sudah mengalami kebaikan Tuhan, tetapi menganggapnya biasa atau hanya suatu kebetulan, sehingga tidak mampu mensyukurinya sebagai berkat Tuhan. Tuhan sudah berkali-kali memberi kita tanda melalui berbagai peristiwa, tetapi kita terus mencari tanda lain karena tidak mampu melihat itu semua dengan mata iman.

Karena itu, mari kita belajar untuk peka. Mungkin Tuhan sedang berbicara melalui kegelisahan kita, melalui teguran sesama, melalui kegagalan kita, melalui sabda yang terus kita dengarkan, atau melalui seseorang yang tidak kita sukai. Semua itu dapat menjadi tanda kehadiran Tuhan dan undangan-Nya bagi kita untuk bertobat.

Beriman berarti belajar percaya, bahkan ketika kita belum melihat semuanya dengan jelas. Beriman berarti membuka hati, mendengarkan suara Tuhan, dan berani berkata, “Tuhan, bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Marilah berhenti menuntut Tuhan untuk membuktikan kasih-Nya. Sebaliknya, marilah kita membuka hati untuk menyadari bahwa Tuhan sebenarnya sudah begitu banyak berbicara dan bertindak dalam hidup kita. Yang mungkin kurang bukanlah tanda dari Tuhan, melainkan keterbukaan hati kita untuk melihat, mendengar, percaya, dan bertobat.