Hidup dalam Keaslian, Bukan Kepura-puraan

Selasa, 13 Oktober 2026 – Hari Biasa Pekan XXVIII

3

Lukas 11:37-41

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.”

***

Beberapa kali saya menyampaikan kepada para guru di sekolah, “Kalau mau tahu suatu sekolah memiliki lingkungan yang bersih dan sehat atau tidak, lihatlah kamar mandinya, bukan dari tampilan halaman depannya.” Saya mengatakan ini agar mereka tidak hanya memperhatikan kebersihan yang hanya tampak dari luar, tetapi membersihkan seluruh lingkungan sekolah bahkan yang tidak tampak dari luar. Bisa saja suatu bangunan tampak bersih dari luar, tetapi di dalamnya kotor, berantakan, dan baunya tidak sedap. Begitulah sering kali keindahan yang tampak dari luar tidak selalu menggambarkan keadaan di dalamnya.

Kehidupan kita juga demikian. Bisa saja kita pandai membuat program di atas kertas yang berisi kepedulian, pelayanan, kebersamaan, dan kesejahteraan bagi banyak orang. Namun, di balik semuanya itu sering kali tersembunyi kepentingan pribadi, di mana kita bermaksud mencari keuntungan, membangun citra, mendapatkan pujian, mempertahankan kedudukan, atau memenuhi ambisi pribadi. Sesuatu yang tampak baik di luar tidak selalu lahir dari hati yang baik.

Yesus hari ini berhadapan dengan seorang Farisi yang heran ketika melihat-Nya tidak mencuci tangan sebelum makan. Ia kemudian menyingkapkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar kebersihan lahiriah. Yesus mengkritik kebiasaan orang Farisi yang suka membersihkan bagian luar saja, tetapi bagian dalamnya penuh dengan keserakahan dan kejahatan. Bagi Yesus, ada yang lebih penting daripada tangan yang bersih, yakni hati yang bersih.

Yesus menghendaki keaslian. Apa yang tampak di luar hendaknya sungguh-sungguh sama dan berasal dari apa yang ada di dalam. Pikiran, hati, perkataan, dan perbuatan semestinya berjalan dalam kesatuan. Jangan sampai mulut kita berbicara tentang kasih, tetapi hati kita dipenuhi kebencian. Jangan sampai kita berbicara tentang pelayanan, tetapi sebenarnya kita sedang mencari keuntungan diri. Tuhan tidak akan tertipu oleh penampilan. Manusia mungkin hanya melihat apa yang tampak, tetapi Tuhan melihat hati. Beriman bukanlah soal bagaimana kita kelihatan baik di mata orang, melainkan bagaimana kita sungguh-sungguh baik di hadapan Tuhan.

Keaslian memang tidak mudah. Menjadi autentik berarti berani mengakui dengan tulus dan sungguh-sungguh segala kelemahan, kesalahan, motivasi yang tidak murni, dan bagian-bagian diri yang masih kotor. Kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang yang sempurna, sebab Tuhan juga tidak menuntut kita untuk selalu tampak sempurna. Tuhan menghendaki hati yang jujur dan terbuka untuk dibentuk-Nya.

Hari ini, kita diajak untuk bertanya dengan jujur: Apakah hidup kita sungguh mencerminkan apa yang ada di dalam hati kita? Apakah kebaikan yang kita lakukan sungguh demi kasih, ataukah ada kepentingan tersembunyi di baliknya? Apakah pelayanan kita membahagiakan dan menghidupkan orang lain, ataukah justru menjadi sarana untuk membesarkan diri kita sendiri?

Marilah kita berhenti menghias bagian luar, sementara membiarkan bagian dalam diri kita tetap kotor. Mari kita membiarkan Tuhan membersihkan diri kita dengan kasih-Nya, sehingga perkataan dan perbuatan kita perlahan-lahan menjadi jujur. Mari kita menjadi pribadi yang sama di depan dan di belakang orang lain, menjadi pribadi yang sama dalam perkataan dan perbuatan. Tidak perlu ada kepura-puraan, sebab Tuhan berkenan pada hati yang sederhana, jujur, dan autentik, alih-alih pada penampilan indah yang menyembunyikan kebusukan di dalamnya. Mari kita belajar menjadi pribadi yang tulus.