
Lukas 11:47-54
“Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”
Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.
***
Media sosial akhir-akhir ini banyak memuat berita viral tentang tindakan para tokoh agama yang bertentangan dengan nilai-nilai agama yang diyakini dan diajarkannya sendiri, misalnya pelecehan seksual terhadap anak-anak, perkelahian karena berebut jabatan, skandal keuangan, dan lain-lain. Apakah mereka melakukan itu karena tidak memiliki pengetahuan tentang agama? Tidak mungkin, sebab sebagai tokoh agama, mereka tahu baik tentang hal itu.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan hal yang kurang lebih sama. Yesus mengecam para ahli Taurat karena mereka memiliki banyak pengetahuan tentang hukum Allah, tetapi pengetahuan itu tidak membawa mereka kepada kehidupan yang benar. Mereka tahu, tetapi tidak menghayati dan tidak melakukannya.
Teguran Yesus ini sangat relevan bagi kita. Kita mungkin memiliki banyak pengetahuan tentang agama, rajin membaca Kitab Suci, mengikuti pendalaman iman, menghadiri seminar, mendengarkan khotbah, membaca buku-buku rohani, dan sebagainya, sehingga tahu bahwa kita harus mengampuni, mengasihi musuh, menolong yang lemah, berkata jujur, rendah hati, tidak suka menghakimi, dan mesti memperhatikan mereka yang menderita. Namun, pertanyaannya adalah: Apakah semua yang kita ketahui itu sungguh-sungguh kita hidupi?
Pengetahuan tentang kasih tidak ada artinya jika kita masih menyimpan kebencian. Pengetahuan tentang pengampunan menjadi sia-sia jika kita terus memelihara kemarahan dan dendam. Pengetahuan tentang kerendahan hati tidak menghasilkan apa-apa jika motivasi kita melakukan sesuatu masih hanya agar dipuji dan dianggap paling mampu. Firman Allah bukan sekadar pengetahuan, melainkan terutama untuk dilakukan.
Yang lebih menyedihkan adalah ketika seseorang tidak hanya gagal menghidupi imannya, tetapi juga menghalangi orang lain yang sedang berusaha untuk menghidupinya. Itu terjadi melalui sikap sinis, pesimis, atau menghakimi, sehingga orang lain menjadi takut untuk berubah. Sementara kita sendiri tidak dekat dengan Tuhan, ketika melihat orang lain mulai rajin berdoa, aktif melayani, berusaha mengampuni, atau sungguh-sungguh memperbaiki hidup, kita justru mencibirnya, “Ah, paling cuma sementara.” Tanpa sadar, kita telah menjadi penghalang atau batu sandungan bagi iman mereka.
Sabda Yesus hari ini mengajak kita berefleksi: Jangan sampai kita menjadi orang yang memiliki “kunci pengetahuan”, tetapi tidak pernah membuka pintu kehidupan bagi diri sendiri maupun sesama. Iman bukanlah perlombaan cerdas cermat untuk mengetahui siapa yang paling banyak pengetahuannya tentang Tuhan. Iman adalah keberanian untuk membiarkan Tuhan mengubah hidup kita. Ketika kita belum mampu menjadi teladan, setidaknya jangan menjadi penghalang bagi orang lain yang sedang berusaha berjalan menuju Tuhan.
Kiranya pengetahuan iman yang kita miliki tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke hati dan nyata dalam tindakan. Sebab, pada akhirnya, Tuhan tidak bertanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi tentang apa yang sudah kita lakukan atau hidupi dengan pengetahuan kita tentang iman dan sabda-Nya. Semoga kita senantiasa menjadi saksi iman dan pelaksana sabda.










