Jemaat Kebanggaan Paulus

Minggu, 18 Oktober 2026 – Hari Minggu Biasa XXIX

11

1 Tesalonika 1:1-5b

Dari Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu.

Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita. Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh.

***

Pada awal surat kepada jemaat Tesalonika, Paulus menyampaikan ucapan syukur kepada Allah. Ucapan syukur ini digerakkan oleh kegembiraan yang dirasakannya setelah mendengar kabar tentang jemaat yang ditinggalkannya sebelum mereka siap.

Paulus mengingatkan bahwa awalnya mereka adalah orang-orang yang menyembah berhala-berhala. Ia datang ke kota mereka dan memberitakan Kristus. Mereka menyambut Paulus dengan gembira, mendengarkan pemberitaan yang disampaikannya. Lalu, mereka meninggalkan kepercayaan kepada berhala-berhala itu dan berbalik kepada Allah yang hidup. Mereka pun melayani Allah yang hidup dan menantikan kedatangan Anak-Nya dari surga. Namun, mereka mengalami penindasan yang berat karena menerima berita tentang Kristus dan percaya kepada-Nya.

Paulus bergembira karena nyatanya jemaat Tesalonika tidak meninggalkan iman mereka walaupun menghadapi penderitaan, padahal mereka adalah jemaat yang baru saja dibentuk. Meskipun baru saja meninggalkan berhala-berhala yang mereka yakini berkuasa atas kehidupan, mereka percaya kepada Kristus tanpa keraguan. Kegembiraan yang dirasakan oleh Paulus ini mendorong dia untuk mengucap syukur kepada Allah. Semua yang telah dikerjakannya untuk jemaat Tesalonika membuahkan hasil yang nyata, yaitu jemaat yang memiliki keteguhan iman.

Keteguhan iman jemaat Tesalonika dalam menghadapi penganiayaan terdengar sampai ke wilayah Makedonia dan Akhaya. Mereka bergembira mendengar kabar itu dan mengagumi ketegunan jemaat Tesalonika. Jemaat-jemaat yang ada di kedua wilayah itu pun ingin memiliki keteguhan iman yang sama. Jemaat Tesalonika menjadi contoh bagaimana harus hidup sebagai pengikut Kristus ketika menghadapi penganiayaan. Dengan demikian, jemaat Tesalonika menjadi teladan untuk semua orang percaya yang tinggal di Makedonia dan Akhaya.

Pada awal surat kepada jemaat Tesalonika, Paulus menyampaikan ucapan syukur bukan karena Allah mengerjakan sesuatu untuk dirinya, apalagi untuk urusan yang bersifat material. Ia sudah mengantar orang-orang Tesalonika pada Allah yang hidup dan benar. Ia melihat jemaat yang didirikannya sudah mengambil sikap yang tegas untuk menyembah Allah. Ia bersyukur karena melihat mereka percaya sungguh-sungguh kepada Allah. Ucapan syukur yang sama selayaknya disampaikan oleh orang-orang yang dipercaya untuk menggembalakan iman umat.

Para guru bina iman anak, para pendamping anak-anak calon komuni pertama, serta para pendamping calon penerima Sakramen Krisma layak untuk bersyukur kepada Allah karena dapat mendampingi anak-anak, sehingga mereka dapat mengenal Kristus dengan lebih baik. Para katekis layak bersyukur kepada Allah karena mereka dapat mengantar para katekumen pada pengetahuan tentang Allah yang benar. Para orang tua layak bersyukur kepada Allah karena dipercaya untuk membawa anak-anak mereka kepada Yesus dan mendidiknya dalam iman akan Kristus.