Mewujudkan Kesatuan Jemaat

Jumat, 23 Oktober 2026 – Hari Biasa Pekan XXIX

5

Efesus 4:1-6

Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

***

Paulus memberikan nasihat kepada jemaat Efesus supaya hidup mereka sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Setiap orang Kristen dipanggil untuk mengikuti Kristus dan bersatu dengan-Nya. Karena setiap orang dipanggil untuk bersatu dengan Kristus, semua orang juga harus menjadi satu. Kesatuan itu sesungguhnya telah ada, bahkan telah dianugerahkan, yakni kesatuan Roh Allah, tetapi harus tetap diusahakan karena dalam kenyataannya tidak semua anggota jemaat bersatu.

Seluruh anggota jemaat merupakan satu tubuh, yakni tubuh mistik Kristus. Dalam tubuh ini, mereka yang dahulu adalah orang-orang asing dan orang-orang pendatang dipanggil menjadi kawan-kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. Hal ini terjadi dalam satu roh, dan terjadi sedemikian rupa, sehingga mereka semua diresapi oleh roh yang satu itu. Roh ini adalah yang menciptakan dan memelihara kesatuan jemaat sebagai tubuh Kristus. Dalam Dia, tubuh itu dibangun, dan dalam Dia, orang-orang percaya beroleh jalan masuk kepada Bapa.

Kesatuan antaranggota dalam jemaat merupakan nilai penting dalam kehidupan kristiani. Kesatuan yang dimaksudkan bukanlah kesatuan yang dipaksakan, melainkan lahir dari kesadaran akan panggilan Kristen. Jemaat dipanggil untuk mengikuti Tuhan yang satu, yakni Yesus Kristus, sehingga mereka sesungguhnya beriman pada satu Tuhan dan menaruh pengharapan pada-Nya. Inilah yang sesungguhnya menjadi dasar kesatuan yang sejati, bukan suku, status sosial, atau kemampuan intelektual. Dalam kesatuan ini, seluruh jemaat memiliki pengharapan yang sama, yakni kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus. Warisan surgawi itu telah mereka terima dalam hidup di dunia ini, namun baru akan mereka miliki sepenuhnya dalam surga.

Untuk mewujudkan kesatuan jemaat, setiap anggota perlu rendah hati. Rendah hati merupakan sikap yang menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Para anggota jemaat, termasuk jemaat Efesus, dipanggil untuk mengikuti Kristus bukan karena mereka lebih baik atau lebih hebat dari orang lain, melainkan karena karunia dan kebaikan Allah semata. Karena itu, tidak ada alasan bagi mereka untuk menyombongkan diri dan menganggap diri lebih baik atau lebih hebat dari orang lain.

Mereka juga perlu bersikap lemah lembut dan sabar. Kedua sikap ini merupakan dua dari sembilan buah Roh yang disebut di Gal. 5:22-23. Lemah lembut merupakan sifat Kristus sendiri, dan kesabaran sering dinasihatkan oleh Paulus. Orang yang lemah lembut tidak suka bertengkar dan marah, selalu berusaha menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan perselisihan, dan hidup dalam damai dengan orang lain.

Para anggota jemaat pun harus saling mengasihi. Kasih sering hanya menjadi slogan dan kata manis untuk diucapkan, tetapi di sini ditunjukkan bagaimana saling mengasihi secara konkret, yakni dengan saling membantu. Dengan demikian, kasih menjadi nyata dalam kehidupan bersama.