
Lukas 21:34-36
“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”
***
Dalam menantikan kedatangan Kerajaan Allah, Yesus menasihati kita agar senantiasa waspada. Jangan berpesta pora, jangan pula bermabuk-mabukan. Itu akan membuat kita lupa diri, lepas kendali, hingga melakukan hal-hal yang jahat. Hindari pula sikap cemas dan khawatir karena akan membuat kita ragu untuk melakukan sesuatu yang baik. Kita diharapkan untuk setia berjaga-jaga, seperti seorang hamba yang berjaga menantikan kepulangan tuannya yang tidak pasti. Berjaga di sini tidak berarti berdiam diri sepanjang hari. Isilah waktu penantian ini dengan doa. Doa akan menguatkan kita di tengah situasi dunia yang semrawut dan serba tidak pasti. Doa juga kelak akan mengantar kita berdiri di hadapan Anak Manusia.
Bagi orang-orang berdosa, hari akhir adalah bencana, sebab pada saat itu, Anak Manusia akan datang untuk menghukum mereka. Namun, bagi orang-orang benar, kedatangan Anak Manusia adalah suatu berkat. Ia datang bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan mereka. Mereka yang selama ini tertindas dibebaskan-Nya dan diantarkan-Nya ke kota Allah yang kudus, suatu tempat yang begitu indah, damai, dan tenang. Di situ, Allah memerintah dengan adil sebagai raja, dan kita umat-Nya akan hidup dalam kesejahteraan. Semoga janji ini menghibur dan membangkitkan harapan kita semua yang tengah berjuang mengarungi hidup di dunia ini.
Pada masa penantian ini, kita diajak untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan kita, alih-alih melakukan perbuatan yang makin merusak diri sendiri. Kita masing-masing mempunyai kecenderungan-kecenderungan negatif yang bisa menjauhkan diri kita dari Tuhan. Kenali kecenderungan-kecenderungan itu dan mulailah memperbaikinya. Sapalah Dia yang senantiasa beserta kita, sapalah Dia sepanjang waktu. Biarkan Dia menjadi inspirasi pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Niscaya hidup kita akan terarah dan teberkati bersama-Nya.










