Melihat Terang yang Besar

Senin, 5 Januari 2026 – Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan

58

Matius 4:12-17

Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, — bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”

***

Ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes Pembaptis telah ditangkap, Ia tidak mundur atau berhenti. Justru pada saat itulah Ia memulai karya-Nya. Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa terang Tuhan tidak menunggu keadaan menjadi ideal untuk bersinar. Terang Tuhan justru datang ketika situasi tampak gelap, kacau, atau tidak pasti. Dalam hidup kita, ketika harapan terasa melemah atau arah terasa buram, sering kali justru pada saat itulah Tuhan mulai bekerja secara nyata, meski tidak selalu langsung terlihat.

Yesus pergi ke Galilea, daerah yang disebut “wilayah kegelapan”, tempat orang-orang yang dianggap jauh dari pusat religius dan jauh dari perhatian dunia. Namun, justru di tempat seperti itulah terang pertama kali diumumkan. Tuhan tidak selalu datang kepada yang siap, kuat, atau berpengaruh; Ia datang ke tempat yang paling membutuhkan penyembuhan dan pemulihan. Ketika kita merasa jauh, lemah, atau tidak layak, mungkin itulah saat di mana Tuhan sedang mendekat kepada kita.

Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar. Kegelapan di sini bukan tempat, melainkan keadaan batin, yakni kebingungan, kesedihan, rasa bersalah, dan kehilangan arah. Terang yang besar tidak selalu menghilangkan semua kegelapan seketika, tetapi akan memberi arah, kehangatan, dan keberanian untuk melangkah. Terang Kristus tidak memaksa, tetapi mengundang. Ia menyentuh secara perlahan, menenangkan hati, dan mengajar kita melihat bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian.

Kata pertama pewartaan Yesus adalah: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Pertobatan bukan pertama-tama perubahan perilaku, melainkan perubahan arah hati. Ini bukan ajakan untuk merasa bersalah, melainkan undangan yang lembut untuk kembali: Kembali kepada diri yang sejati, kepada tujuan hidup, dan kepada kasih yang menanti. Pertobatan tidak selalu dramatis. Kadang ia hanyalah langkah kecil berupa keberanian untuk jujur melihat diri, keinginan untuk mengampuni, atau kerelaan untuk kembali membuka hati kepada Tuhan.

Kerajaan Surga yang “sudah dekat” bukan berarti jauh berada di masa depan. Ia dekat saat hati menjadi lembut, saat cinta mulai tumbuh kembali, dan saat kita memilih kebaikan di tengah kegelapan. Kerajaan Surga dekat ketika kita berhenti melawan kasih Tuhan dan mulai membiarkan-Nya menyentuh hidup kita. Kita tidak diminta memahami semuanya sekaligus. Kita hanya diminta membuka celah kecil, dan Tuhan yang akan mengisi sisanya dengan terang.

Di Galilea, Tuhan memulai karya-Nya. Dalam diri kita, Ia juga ingin memulai sesuatu, yakni pembaruan yang kecil, langkah yang baru, seberkas cahaya yang mampu mengubah arah hidup. Mungkin kita sedang berada di “Galilea” kita sendiri, suatu tempat yang tidak ideal, yang penuh kekurangan atau keraguan, tetapi di sanalah Yesus berkenan memulai segala sesuatunya.