Kekuatan Tindakan Kasih

Kamis, 15 Januari 2026 – Hari Biasa Pekan I

17

Markus 1:40-45

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

***

Setiap tindakan yang dilakukan dengan penuh cinta akan menghasilkan buah kebaikan yang berlimpah dan memengaruhi cara hidup, baik bagi yang melayani maupun yang dilayani, dan sering kali juga bagi orang lain.

Bacaan Injil hari ini berkisah tentang perjumpaan yang sangat menyentuh antara Yesus dengan seorang penderita kusta. Seorang penderita kusta datang mendekati Yesus dan memohon kepada-Nya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” Pernyataan orang kusta ini menunjukkan keberanian iman yang luar biasa. Pada zaman Yesus, penderita kusta termasuk dalam kelompok yang dikucilkan. Mereka hidup di luar komunitas masyarakat, dan hanya boleh tinggal bersama dengan sesama penderita kusta. Mereka tidak boleh mendekati orang yang sehat, agar orang itu tidak tertular oleh penyakit yang dideritanya. Namun, orang ini justru berani datang dan memohon bantuan Yesus. Ia tidak memaksa. Ia hanya berpasrah pada kehendak dan belas kasihan Yesus. Orang kusta ini tidak meragukan kuasa Yesus untuk menyembuhkannya, tetapi ia hendak memastikan apakah Yesus cukup peduli untuk melakukan hal itu.

Yesus juga bersikap sangat berani. Ia tidak mengambil jarak dari orang kusta itu, meskipun hal tersebut juga melanggar hukum yang berlaku. Yesus memilih untuk melakukan apa yang tidak akan dilakukan oleh orang lain pada zaman-Nya: Ia mengulurkan tangan dan menyentuh orang kusta itu, sehingga orang itu sembuh dari penyakitnya. Sentuhan kasih Yesus memulihkan bukan hanya fisik orang itu, melainkan juga martabatnya. Yesus menyembuhkan luka fisik, sekaligus luka batin dan luka sosial penderita kusta itu. Ia hadir bersama yang menderita, dan menyentuh apa yang tidak tersentuh.

Sentuhan kasih Yesus terhadap penderita kusta ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang berada di luar jangkauan belas kasihan Tuhan. Tuhan selalu terhubung dengan kita masing-masing, bahkan dalam segala kelemahan kita. Kehadiran Tuhan akan selalu menjadi kehadiran yang menyembuhkan dan memberi pengharapan. Seperti orang kusta ini, kita pun diajak untuk memiliki keberanian iman yang sama. Tidak ada dosa yang terlalu besar, tidak ada luka yang terlampau dalam yang akan membuat Tuhan menolak permohonan kita. Tuhan tidak pernah jijik dengan kelemahan dan dosa-dosa kita. Kasih sayang-Nya mengalahkan semua kekuatan manusia yang berusaha mengucilkan sesama yang lain.

Menariknya, sesudah disembuhkan, orang itu diminta Yesus untuk tidak memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Ia diminta untuk bertemu dengan para imam dan mempersembahkan kurban sesuai dengan perintah hukum Musa. Akan tetapi, orang itu justru pergi dengan penuh sukacita dan mewartakan apa yang dialaminya ke seluruh penjuru kota. Tindakan ini mungkin lucu dan konyol, tetapi ada satu pesan penting yang terkandung di dalamnya: Orang yang telah mengalami kekuatan kasih Tuhan tidak bisa diam di zona nyaman. Pengalaman kasih itu terlalu besar untuk disimpan sendiri.

Ketika kita mengalami sentuhan kasih Tuhan, kita pun terdorong untuk membagikannya kepada sesama yang lain, entah melalui perbuatan baik, pelayanan, atau kesaksian hidup. Setiap pengalaman kasih yang kita terima dari Tuhan mestinya tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi perlu diwartakan untuk menguatkan satu sama lain.