Menjadi Pelita yang Menyala

Kamis, 29 Januari 2026 – Hari Biasa Pekan III

10

Markus 4:21-25

Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Lalu Ia berkata lagi: “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil darinya.”

***

Ada sebuah kisah tentang seorang buta yang membawa pelita saat berjalan tengah malam. Tangan kirinya memegang pelita yang menyala, sementara tangan kanannya memegang tongkat yang menuntunnya. Orang yang berpapasan dengan dia dan melihat hal itu menjadi heran dan bertanya: Apa perlunya membawa pelita? Bukankah ia sendiri tidak dapat melihat? Orang buta itu menjawab bahwa pelita tersebut bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang lain yang kebetulan berpapasan dan tidak membawa penerang, agar tidak terjadi tabrakan.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang pelita yang menyala dan ditempatkan di atas kaki dian. Supaya pelita yang menyala dapat menerangi ruangan, pelita itu memang harus ditempatkan di atas kaki dian dan di tempat yang tinggi, bukan di lantai, apalagi di bawah tempat tidur. Sebab, sama seperti lilin, pelita dinyalakan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pihak-pihak lain.

Di tempat lain, kepada para murid-Nya, Yesus bersabda, “Kamu adalah garam dan terang dunia.” Dengan tegas, Yesus berkata bahwa menjadi murid-Nya itu harus menjadi seperti garam dan terang. Garam memberi rasa enak agar makanan tidak menjadi hambar, sedangkan terang memberi cahaya bagi lingkungan sekitarnya.

Garam tidak dipakai untuk mengasinkan dirinya sendiri. Lilin atau pelita juga tidak dipakai untuk menerangi dirinya sendiri. Sama seperti Kristus, menjadi murid Kristus artinya harus berani memberikan dirinya bagi sesama dan alam semesta. Murid-murid Kristus tidak boleh egois, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Meski kita adalah kelompok minoritas di tengah-tengah masyarakat, kita tetap diharapkan dapat menjadi garam dan terang bagi dunia.