Hati yang Sombong Meniadakan Mukjizat

Rabu, 4 Februari 2025 – Hari Biasa Pekan IV

8

Markus 6:1-6

Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.

Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

***

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pernahkah Anda bertemu dengan orang yang suka meremehkan dan merasa paling tahu segalanya? Apa yang akan Anda lakukan jika bertemu dan berbincang-bincang dengan orang seperti itu? Berdasarkan pengamatan saya, orang yang demikian cenderung dihindari dan didiamkan. Pribadi yang demikian sering dilabeli sebagai orang yang sombong. Sikap sombong tidak pernah membawa keuntungan, sebaliknya selalu membawa kerugian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Kesombongan membuat manusia menutup diri dari kebenaran, sebab ia merasa sudah paling tahu dan paling benar.

Dalam tradisi filsafat, terutama sejak Sokrates, kebijaksanaan justru dimulai dari kesadaran akan keterbatasan diri. Orang yang sombong sulit belajar, sulit mendengarkan, dan akhirnya terjebak dalam kesalahan yang berulang. Selain itu, kesombongan merusak relasi sosial karena menghilangkan sikap saling menghargai dan bahkan bisa menutup pintu rahmat.

Bacaan Injil hari ini semakin menegaskan bahwa kesombongan hati dan ketertutupan iman dapat meniadakan karya Allah yang besar. Orang-orang Nazaret sebenarnya takjub melihat hikmat dan kuasa Yesus. Namun, ketakjuban itu tidak membuahkan iman. Mereka terjebak pada cara pandang yang dangkal: Melihat Yesus hanya dari latar belakang-Nya, bahwa Dia ini seorang tukang kayu, anak Maria, yang mereka kenal sejak kecil. Hati mereka tertutup oleh prasangka dan rasa “sudah tahu segalanya”. Akibatnya, mereka menolak untuk percaya bahwa Allah dapat berkarya melalui pribadi yang tampak biasa.

Melalui kisah ini, kita melihat hubungan erat antara iman dan mukjizat. Dikatakan bahwa Yesus “tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana”. Ini bukan karena kuasa Yesus terbatas, melainkan karena hati manusia yang menolak untuk terbuka. Mukjizat bukan sekadar peristiwa spektakuler, melainkan merupakan tanda kehadiran Allah yang hanya dapat diterima oleh mereka yang rendah hati dan percaya. Kesombongan membuat manusia merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga rahmat pun tidak mendapat ruang untuk bekerja.

Tidak jarang kita pun bersikap seperti orang-orang Nazaret itu. Kita membatasi Allah dengan ukuran, pengalaman, dan penilaian kita sendiri. Kita meremehkan orang lain, bahkan meremehkan cara Allah bekerja, hanya karena tidak sesuai dengan harapan atau logika kita. Tanpa sadar, kita menutup pintu bagi mukjizat yang telah direncanakan Allah bagi hidup kita, yakni rahmat rekonsiliasi, pertobatan, pengampunan, dan kedamaian batin. Hari ini, kita diajak untuk memeriksa hati: Apakah kita sudah memiliki kerendahan hati saat berhadapan dengan Allah dan sesama? Kerendahan hati adalah tanah yang subur bagi iman. Marilah kita belajar menjadi pribadi yang rendah hati, mau mendengarkan, dan mau percaya, agar mukjizat Tuhan mengubah hidup kita.