
Markus 6:30-34
Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
***
Saudara-saudari yang terkasih, manusia dalam keegoisannya sering kali mengalami kebutaan rohani atau ignorantia. Hal yang dimaksud bukan sekadar tentang ketidaktahuan, melainkan ketertutupan terhadap kebenaran. Dalam bahasa St. Agustinus, hati menjadi incurvatus in se, yakni kecenderungan untuk terlipat ke dalam diri sendiri, sehingga gagal melihat tujuan hidup yang sejati.
Kebutaan rohani membuat manusia tidak memahami apa yang ia minta karena keterbatasan kesadaran diri. Keinginan kerap muncul dari emosi sesaat, luka batin, atau dorongan bawah sadar yang belum direfleksikan secara matang. Manusia merasa tahu apa yang diinginkan, tetapi tidak selalu memahami kebutuhan terdalamnya. Karena itu, dalam relasi dengan Tuhan, terutama di dalam doa, manusia sering meminta sesuatu menurut sudut pandangnya sendiri.
Kisah Salomo dalam bacaan pertama (1Raj. 3:4-13) mengajak kita merenungkan sebuah rahmat yang sering dilupakan, yakni hati yang bijaksana. Ketika Tuhan memberi kesempatan kepada Salomo untuk meminta apa saja, Salomo tidak memilih hal-hal yang hanya berkaitan dengan kepentingan dirinya, yakni kekayaan, umur panjang, atau kemenangan atas musuh. Saloma justru menyadari keterbatasannya sebagai raja muda yang memimpin umat yang besar. Dari kesadaran itulah lahir permohonan akan hati yang paham, yang mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Tuhan berkenan atas doa Salomo, sebab Salomo meminta bukan demi dirinya, melainkan demi pelayanan yang benar kepada umat.
Hikmat Salomo berakar pada kerendahan hati. Ia tahu bahwa kuasa tanpa kebijaksanaan akan membawa kehancuran. Hati yang bijaksana memang memerlukan juga kecerdasan intelektual, tetapi yang lebih penting daripada itu ialah hati yang terbuka pada kehendak Allah dan peka terhadap kebutuhan sesama.
Sementara itu, Injil Markus memperlihatkan wajah lain dari kebijaksanaan dalam diri Yesus. Setelah para rasul bekerja keras, Yesus mengajak mereka beristirahat di tempat sunyi. Namun, ketika melihat orang banyak yang seperti domba tanpa gembala, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Yesus menunda istirahat demi mengajar dan memberi hidup. Kebijaksanaan Yesus tampak dalam kepekaan hati: Ia tahu kapan perlu berhenti, tahu pula kapan harus memberi diri sepenuhnya.
Dari kedua bacaan hari ini, kita belajar bahwa hati yang bijaksana selalu lahir dari relasi dengan Allah dan perhatian pada sesama. Kebijaksanaan bukan terutama tentang memiliki jawaban, melainkan tentang memiliki hati yang mau mendengarkan, menimbang, dan mengasihi. Dalam hidup sehari-hari, kita pun sering diberi kesempatan untuk meminta. Mari kita bertanya: Apa yang kita mohonkan kepada Tuhan? Semoga kita belajar dari Salomo untuk meminta apa yang paling tepat bagi hidup kita dan sesama.










